Analisis Saham BLUE: Fundamental Kokoh atau Jebakan Likuiditas?

RETORIS.ID staff

Martini Ramadhani

15-02-2026

Analisis Saham BLUE: Fundamental Kokoh atau Jebakan Likuiditas?

Ilustrasi harga saham BLUE melambung tinggi

Pernahkah Anda melihat sebuah saham yang harganya terbang ke bulan, meninggalkan logika dan valuasi konvensional jauh di belakang? Itulah yang terjadi pada saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE). Dalam hitungan bulan, harganya meroket ratusan persen, memicu euforia sekaligus pertanyaan besar di kalangan investor.

Namun, di balik kenaikan yang spektakuler ini, tersembunyi sebuah narasi yang jauh lebih kompleks. Ada diskoneksi ekstrem antara lonjakan harga, volume perdagangan, dan jumlah saham yang benar-benar beredar di publik.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kita menyaksikan kebangkitan raksasa baru yang didukung fundamental super kokoh? Ataukah ini adalah permainan canggih yang memanfaatkan kelangkaan suplai, menciptakan potensi jebakan likuiditas bagi investor ritel yang lengah? Mari kita bedah bersama, lapis demi lapis, berdasarkan data yang tersedia.

Kronologi Kenaikan Harga Saham BLUE yang Spektakuler

Untuk memahami konteksnya, kita perlu melihat perjalanan harga saham BLUE. Pada 16 Oktober 2025, saham ini dibuka dengan lonjakan luar biasa sebesar 24,85%, melesat dari Rp845 ke Rp1.055 dan langsung menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA). ARA adalah mekanisme bursa untuk membatasi kenaikan atau penurunan harga saham yang terlalu ekstrem dalam satu hari. Terkuncinya harga di level ARA menandakan antusiasme beli yang sangat tinggi.

Momentum ini terus berlanjut. Kurang dari empat bulan kemudian, pada akhir Januari 2026, harga saham BLUE sudah berada di level yang sama sekali berbeda. Saham ini sempat menyentuh level Rp6.175 pada 26 Januari 2026. Ini merepresentasikan kenaikan lebih dari 500% dari level Oktober 2025.

Kenaikan kumulatif yang signifikan ini bahkan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham BLUE untuk memberikan waktu bagi investor mencerna informasi yang ada. Setelah suspensi dicabut pada 28 Januari, saham ini dibuka terkoreksi, namun tetap berada di level harga yang sangat tinggi, yaitu Rp5.850 per saham.

Di Balik Layar: Membedah Anomali Order Book dan Volume

Kenaikan harga yang wajar biasanya diiringi oleh volume transaksi yang besar, menunjukkan partisipasi pasar yang luas. Namun, pada kasus BLUE, ada beberapa kejanggalan.

Pada fase awal kenaikan di Oktober 2025, struktur order book (antrean penawaran jual dan permintaan beli) menunjukkan gambaran yang tidak biasa. Sisi permintaan beli (bid) tercatat sangat tebal, mencapai sekitar 12.117 lot. Sebaliknya, sisi penawaran jual (offer) dilaporkan “hampir tidak terlihat”.

Apa artinya ini? Kondisi ini, sering disebut sebagai "suplai yang dikeringkan," terjadi ketika hampir tidak ada pemegang saham yang bersedia menjual sahamnya di pasar, sementara permintaan terus menumpuk. Akibatnya, harga dapat dengan mudah terdorong naik bahkan dengan volume transaksi yang tidak terlalu masif.

Fakta ini diperkuat oleh data transaksi pada 26 Januari 2026. Meskipun harga ditutup di Rp6.175, nilai transaksi harian tercatat "hanya" sekitar Rp13,96 miliar. Angka ini relatif kecil untuk sebuah pergerakan harga yang begitu signifikan, memperkuat dugaan bahwa suplai saham yang tersedia untuk diperdagangkan sangatlah terbatas.

Rendahnya Free Float dan Risiko Likuiditas

Sumber dari kelangkaan suplai ini akhirnya terungkap pada satu metrik krusial: free float. Free float adalah persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh investor publik dan tersedia untuk diperdagangkan di pasar. Semakin kecil angkanya, semakin sedikit saham yang beredar bebas.

Saham BLUE memiliki free float yang relatif kecil, hanya sekitar 11,98%.

Ini berarti, hampir 88% saham perusahaan dikuasai oleh pemegang saham pengendali atau investor strategis yang kemungkinan besar tidak aktif memperdagangkannya setiap hari. Dengan suplai yang begitu tipis di pasar, bahkan permintaan beli dalam jumlah sedang pun sudah cukup untuk mengerek harga secara signifikan.

Inilah pedang bermata duanya. Di satu sisi, free float rendah dapat menciptakan reli harga yang eksplosif karena kelangkaan. Di sisi lain, ini menciptakan risiko likuiditas yang sangat tinggi. Jika sentimen pasar berbalik dan para pemegang saham pengendali memutuskan untuk menjual sebagian kecil saja dari kepemilikan mereka (dumping), pasar bisa kebanjiran suplai.

Bagi investor ritel yang membeli di harga puncak, risikonya adalah mereka bisa terjebak. Saat semua orang ingin menjual, tidak ada lagi antrean beli yang tebal. Akibatnya, mereka tidak bisa keluar dari posisi mereka tanpa mengalami kerugian besar.

Membedah Fundamental BLUE: Apakah Valuasi Premium Terjustifikasi?

Melihat dinamika pasar yang tidak biasa, pertanyaan logis berikutnya adalah: apakah fundamental perusahaan mampu menopang valuasi setinggi ini?

Jawabannya cukup kompleks. Dari sisi kesehatan finansial dan profitabilitas, PT Berkah Prima Perkasa Tbk menunjukkan profil yang sangat kokoh.

  • Profitabilitas Kuat: Perusahaan mencatatkan gross margin 33,58%, operating margin 13,12%, dan net margin 12,99%. Angka-angka ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang sehat dari operasinya.
  • Risiko Kebangkrutan Rendah: Altman Z-Score perusahaan berada di level 20,83, sebuah angka yang sangat tinggi dan menegaskan risiko kebangkrutan yang amat rendah.
  • Arus Kas Solid: Arus kas dari operasi (TTM) dan free cash flow (TTM) sama-sama berada di angka Rp26 miliar, dengan total aset sekitar Rp112 miliar berbanding total liabilitas yang hanya Rp7 miliar. Ini adalah posisi neraca yang sangat kuat.
  • Dividen Konsisten: Perusahaan juga rutin membagikan dividen kepada pemegang saham, dengan payout ratio historis di kisaran 56-62%.

Namun, ketika kita membandingkan fundamental yang sehat ini dengan harga sahamnya, muncul sebuah diskoneksi. Valuasi BLUE berada di level premium yang sangat tinggi.

  • Rasio Harga terhadap Laba (P/E Ratio): P/E TTM saham ini berada di 30,88, jauh di atas median P/E IHSG yang hanya 7,99. Artinya, investor bersedia membayar hampir 31 kali lipat dari laba tahunan perusahaan untuk setiap lembar sahamnya.
  • Rasio Harga terhadap Nilai Buku (P/BV Ratio): PBV ratio berada di sekitar 4,20 . Ini mengindikasikan harga sahamnya lebih dari 4 kali lipat nilai buku atau ekuitas perusahaan.
  • Imbal Hasil Laba (Earnings Yield): Angkanya hanya sekitar 3,24%, menandakan imbal hasil dari laba perusahaan relatif kecil dibandingkan harga saham yang harus dibayar investor saat ini.

Valuasi premium ini kemungkinan besar bukan lagi refleksi murni dari fundamental, melainkan hasil dari mekanisme supply-shock yang telah kita bahas sebelumnya.

Proyeksi dan Skenario Harga: Antara Reli Lanjutan dan Koreksi Tajam

Dengan kondisi jenuh beli ekstrem yang ditunjukkan oleh indikator teknikal seperti RSI di level 85-90, risiko koreksi teknikal sangatlah tinggi. Aksi ambil untung (profit taking) bisa terpicu kapan saja, terutama jika ada penawaran jual dalam volume besar yang tiba-tiba masuk ke pasar.

Koreksi cepat menuju level support psikologis di sekitar Rp1.000–Rp1.020 (level harga saat reli dimulai) adalah skenario yang sangat mungkin terjadi jika tekanan jual masif muncul. Namun, jika antusiasme beli tetap kuat, bukan tidak mungkin harga akan mencoba bertahan atau mencari keseimbangan baru di level yang lebih tinggi.

Strategi untuk Investor: Hold, Buy, or Wait?

Mengingat kombinasi euforia harga, valuasi premium, dan risiko likuiditas, strategi yang bijak sangatlah diperlukan.

  • Bagi Investor yang Sudah Memiliki Posisi: Strategi defensif adalah pilihan yang paling masuk akal. Memasang trailing stop di sekitar level psikologis (misalnya sedikit di bawah Rp1.000) dapat membantu mengamankan keuntungan yang sudah didapat sambil tetap memberi ruang bagi harga untuk berfluktuasi.
  • Bagi Investor yang Belum Masuk: Mengejar saham yang sudah naik ratusan persen di level ARA adalah strategi yang sangat berisiko. Pendekatan yang lebih bijak adalah menunggu terjadinya koreksi sehat ke area entry yang lebih rasional, misalnya di bawah Rp1.030 atau mendekati Rp1.000. Membeli saat harga terkoreksi memberikan rasio risiko-imbalan (risk-reward ratio) yang jauh lebih menarik.

Pertanyaan Kunci yang Belum Terjawab

Analisis ini mengungkap banyak hal, namun ada satu pertanyaan krusial yang belum bisa dijawab hanya dengan data yang tersedia: Siapa pemegang saham pengendali utama di balik 88% saham yang tidak beredar di publik?

Informasi mengenai identitas mereka dan apakah ada afiliasi dengan grup bisnis tertentu yang sedang aktif melakukan manuver korporasi (seperti fundraising melalui repo saham) tidak tersedia dalam konteks analisis ini. Mengetahui siapa "Market Maker" di balik layar akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai motif dan potensi pergerakan harga di masa depan.

Menavigasi Saham BLUE dengan Kewaspadaan Ekstra

Saham BLUE menyajikan sebuah studi kasus yang menarik. Di satu sisi, kita memiliki perusahaan dengan fundamental yang sehat, neraca kuat, dan profitabilitas yang solid. Di sisi lain, kita melihat harga sahamnya diperdagangkan pada valuasi yang sangat mahal, didorong oleh dinamika suplai dan permintaan yang tidak biasa akibat free float yang sangat rendah.

Kenaikan harga yang terjadi kemungkinan besar merupakan hasil dari mekanisme supply-shock, di mana kelangkaan barang (saham) di pasar membuat harganya meroket. Meskipun ini bisa menghasilkan keuntungan fantastis dalam waktu singkat, risikonya sepadan. Risiko terbesar adalah likuiditas—kemampuan untuk menjual saham Anda dengan cepat tanpa menekan harga.

Sebagai investor, keputusan ada di tangan Anda. Selalu lakukan riset mandiri Anda (Do Your Own Research). Pahami bahwa keuntungan tinggi seringkali datang dengan risiko tinggi.


Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional dan pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan yang diambil.

Artikel yang serupa