Free Float Saham Adalah Jebakan? Mengapa 7,5% BEI Tak Cukup

RETORIS.ID staff

Martini Ramadhani

02-01-2026

Free Float Saham Adalah Jebakan? Mengapa 7,5% BEI Tak Cukup

Pahami apa itu free float saham dan mengapa aturan minimum 7,5% dari BEI

Pernahkah Anda menganalisis sebuah saham, menemukan fundamentalnya solid, valuasinya menarik, namun harganya seolah mati suri selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Anda tidak sendirian. Banyak investor ritel terjebak dalam saham yang terlihat bagus di atas kertas, tetapi lesu darah di pasar. Apa penyebabnya?

Jawabannya mungkin tersembunyi dalam sebuah metrik yang sering diabaikan: free float.

Banyak yang mengira, selama sebuah perusahaan memenuhi aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang free float minimum, sahamnya aman dan likuid. Kenyataannya, ada kesenjangan besar antara "patuh" menurut regulator dan "layak investasi" menurut manajer investasi global.

Artikel ini akan membongkar mengapa standar minimum 7,5% dari BEI bisa menjadi jebakan likuiditas, menciptakan apa yang kita sebut sebagai "Zombie Stocks": saham yang tercatat secara legal, namun mati secara partisipasi institusional. Memahami celah ini adalah kunci untuk menghindari portofolio yang mandek dan membuat keputusan investasi yang jauh lebih cerdas.

Apa Itu Free Float Saham? Definisi yang Wajib Anda Pahami

Secara sederhana, free float saham adalah jumlah total saham suatu perusahaan yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas oleh publik di pasar modal. Saham-saham ini tidak dimiliki oleh pihak-pihak yang memiliki kontrol atau kepentingan strategis jangka panjang, seperti:

  • Pemegang saham pengendali dan afiliasinya
  • Direksi dan dewan komisaris
  • Pendiri perusahaan (founder)
  • Pemerintah atau institusi strategis lainnya

Saham yang dimiliki oleh pihak-pihak di atas dianggap "terkunci" (restricted shares) dan tidak termasuk dalam perhitungan free float. Jadi, free float adalah porsi saham yang benar-benar aktif diperjualbelikan oleh investor publik, baik ritel maupun institusional, setiap harinya.

Untuk memahaminya dengan mudah, bayangkan sebuah perusahaan adalah kue pai utuh. Total potongan kue yang ada disebut outstanding shares (total saham beredar). Namun, beberapa potong besar sudah "dipesan" dan tidak akan dijual oleh pemiliknya (pendiri, direksi). Sisa potongan kue yang tersedia di etalase untuk dibeli siapa saja, itulah free float.

Perbedaan ini krusial. Sebuah perusahaan bisa memiliki miliaran lembar outstanding shares, tetapi jika free float-nya hanya beberapa persen, maka saham yang benar-benar bisa ditransaksikan di pasar sangatlah sedikit. Inilah mengapa free float menjadi indikator likuiditas yang jauh lebih akurat daripada sekadar melihat total saham beredar.

Aturan Free Float Saham di Indonesia: Celah Antara Kepatuhan dan Kelayakan

Untuk menjaga pasar tetap sehat dan efisien, Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan aturan main yang jelas. Berdasarkan Peraturan Bursa Nomor I-A, setiap emiten wajib memenuhi persyaratan:

  1. Jumlah Saham Free Float: Paling sedikit 50.000.000 (lima puluh juta) lembar saham.
  2. Persentase Free Float: Paling sedikit 7,5% dari total saham tercatat.
  3. Jumlah Pemegang Saham: Minimal 300 nasabah pemilik SID (Single Investor Identification).

Bahkan, untuk perusahaan dengan ekuitas di atas Rp200 miliar, syarat minimalnya naik menjadi 10%. Jika emiten gagal memenuhi ketentuan ini dalam waktu 24 bulan, mereka bisa dikenai sanksi hingga denda.

Sekilas, aturan ini terdengar bagus. Namun, di sinilah letak celahnya.

Angka 7,5% adalah batas minimum untuk tetap tercatat di bursa, bukan angka optimal untuk sebuah investasi. Banyak indeks saham global yang menjadi acuan dana-dana raksasa, seperti MSCI dan FTSE, menggunakan free float sebagai salah satu kriteria utama untuk memasukkan sebuah saham ke dalam indeks mereka. Mereka menuntut tingkat likuiditas riil yang jauh melampaui ambang batas 7,5%. Saham dengan free float di atas 40% sering dianggap sangat likuid dan memiliki bobot tinggi dalam indeks.

Akibatnya, saham yang hanya "patuh" pada aturan minimum BEI seringkali tidak terlihat di radar investor institusional asing. Mereka terlalu kecil dan tidak likuid untuk dimasuki dana besar tanpa menyebabkan gejolak harga yang masif. Inilah awal mula terciptanya "Zombie Stocks".

Mengapa Free Float Penting? 4 Pilar yang Menopang Harga Saham Anda

Memahami pentingnya free float sama dengan memahami empat pilar fundamental yang menopang dinamika pasar saham.

1. Likuiditas Pasar

Ini adalah manfaat paling langsung. Free float yang besar berarti ada banyak saham yang tersedia untuk dibeli dan dijual. Ini menciptakan pasar yang likuid, di mana Anda bisa melakukan transaksi dalam jumlah wajar dengan cepat tanpa mempengaruhi harga secara drastis. Sebaliknya, saham dengan free float rendah cenderung tidak likuid; sulit untuk membeli atau menjual tanpa menyebabkan harga melonjak atau anjlok.

2. Volatilitas dan Risiko Manipulasi

Saham dengan free float rendah sangat rentan terhadap volatilitas ekstrem. Karena jumlah saham yang beredar di publik sedikit, transaksi dalam volume yang tidak terlalu besar pun sudah cukup untuk menggerakkan harga secara signifikan. Kondisi ini menjadi lahan subur bagi spekulan untuk melakukan praktik "goreng saham"—menciptakan pergerakan harga artifisial yang tidak didasari oleh kinerja fundamental perusahaan. Investor ritel yang tidak waspada bisa terjebak dalam lonjakan harga semu dan menderita kerugian besar saat harga kembali jatuh.

3. Bobot Indeks (IHSG & Global)

Banyak indeks saham utama, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menggunakan metode pembobotan berbasis free float (free float adjusted market capitalization). Artinya, semakin besar free float sebuah perusahaan, semakin besar pula bobot dan pengaruhnya terhadap pergerakan indeks. Saham dengan bobot besar secara alami akan menarik perhatian manajer investasi dan reksa dana indeks yang bertujuan untuk mereplikasi kinerja indeks tersebut.

4. Transparansi dan Keadilan Harga

Ketika lebih banyak saham diperdagangkan oleh publik yang beragam, harga yang terbentuk cenderung lebih adil dan transparan. Harga tersebut merupakan cerminan dari sentimen kolektif ribuan investor, bukan hanya hasil dari transaksi segelintir pemegang saham besar. Ini menciptakan pasar yang lebih sehat dan dapat dipercaya.

Cara Menghitung Free Float Saham (Studi Kasus Sederhana)

Menghitung free float sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu mengetahui total saham beredar (outstanding shares) dan jumlah saham yang terkunci (restricted shares).

Rumus Free Float:
Free Float (lembar) = Outstanding Shares - Restricted Shares

Rumus Rasio Free Float:
Rasio Free Float (%) = (Jumlah Lembar Free Float / Outstanding Shares) x 100%

Mari kita lihat contoh praktis:

PT Investasi Cerdas Tbk. (kode: CERDAS)

  • Total Saham Beredar (Outstanding Shares): 1.000.000.000 lembar
  • Saham Milik Pendiri & Keluarga: 400.000.000 lembar
  • Saham Milik Direksi & Komisaris: 150.000.000 lembar
  • Saham Milik Investor Institusi Strategis (>5%): 100.000.000 lembar

Perhitungan:

  1. Total Restricted Shares:
    400.000.000 + 150.000.000 + 100.000.000 = 650.000.000 lembar
  2. Jumlah Lembar Free Float:
    1.000.000.000 - 650.000.000 = 350.000.000 lembar
  3. Rasio Free Float:
    (350.000.000 / 1.000.000.000) x 100% = 35%

Dengan rasio 35%, saham CERDAS tergolong cukup likuid dan memenuhi standar kelayakan bagi banyak investor.

Bahaya Tersembunyi: Mengenal "Zombie Stocks" Akibat Free Float Rendah

Sekarang kita sampai pada inti masalahnya. Apa itu "Zombie Stocks"?

Zombie Stocks adalah istilah untuk saham-saham yang secara teknis memenuhi syarat minimum untuk tercatat di bursa (misalnya, free float 7,5%), tetapi secara praktis tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk menarik minat investor institusional. Mereka "hidup" di papan perdagangan, tetapi "mati" dalam hal aktivitas dan partisipasi dana besar.

Korelasi antara free float rendah dengan probabilitas saham menjadi "tidur" atau bahkan masuk ke Papan Pemantauan Khusus sangatlah kuat. BEI secara eksplisit menyatakan bahwa salah satu kriteria emiten masuk ke Papan Pemantauan Khusus (dengan notasi "X") adalah jika tidak dapat memenuhi persyaratan free float dan jumlah pemegang saham. Perusahaan yang berada di papan ini selama satu tahun berturut-turut dapat disuspensi, dan jika suspensi mencapai dua tahun, sahamnya berpotensi di-delisting.

Inilah mengapa saham-saham ini menjadi perangkap berbahaya bagi investor ritel:

  • Ilusi Kenaikan: Harga saham ini mudah sekali digerakkan ke atas oleh pihak tertentu dengan modal yang tidak terlalu besar, memicu minat investor ritel yang takut ketinggalan (FOMO).
  • Jebakan Likuiditas: Setelah harga naik ke level tertentu, para penggerak awal bisa dengan mudah menjual saham mereka dalam jumlah besar. Investor ritel yang masuk belakangan akan kesulitan menjual karena pasar tiba-tiba sepi peminat, menyebabkan harga anjlok tajam.
  • Stagnasi Jangka Panjang: Di luar skenario manipulasi, saham ini cenderung tidak bergerak ke mana-mana. Tanpa aliran dana dari institusi, tidak ada katalis kuat untuk mendorong apresiasi harga yang berkelanjutan, sekalipun fundamental perusahaannya baik.

Tips Praktis Menganalisis Free Float Sebelum Anda Berinvestasi

Jangan sampai Anda menjadi korban "Zombie Stocks". Gunakan free float sebagai salah satu filter utama dalam proses analisis Anda.

  1. Periksa Rasio dan Jumlahnya: Jangan hanya melihat persentasenya. Cari tahu berapa jumlah lembar saham yang sebenarnya beredar di publik. Anda bisa menemukan data ini di situs web BEI, laporan tahunan perusahaan, atau platform sekuritas Anda.
  2. Bandingkan dengan Standar Industri: Bandingkan rasio free float saham incaran Anda dengan rata-rata di sektornya. Apakah lebih tinggi atau lebih rendah? Ini memberi Anda konteks yang lebih baik.
  3. Waspadai Ambang Batas Kritis: Berhati-hatilah dengan saham yang free float-nya hanya sedikit di atas ambang batas minimum BEI (misalnya, 7,5% - 12%). Meskipun patuh, saham ini memiliki risiko likuiditas dan volatilitas yang lebih tinggi.
  4. Gunakan Sebagai Filter Risiko: Jadikan free float sebagai salah satu kriteria pertama dalam screening saham. Anda bisa langsung menyaring saham-saham dengan free float di bawah persentase tertentu (misalnya, di bawah 20%) untuk fokus pada saham yang lebih likuid dan stabil.

Jadikan Free Float Sebagai Kompas Investasi Anda

Pada akhirnya, free float saham adalah lebih dari sekadar angka dalam laporan atau aturan yang harus dipatuhi. Ia adalah cerminan dari likuiditas, kepercayaan pasar, dan potensi sebuah saham untuk bertumbuh secara sehat.

Standar minimum 7,5% dari BEI memang penting untuk menjaga ketertiban pasar, tetapi sebagai investor cerdas, kita harus melihat lebih jauh. Mengincar saham dengan free float yang sehat dan substansial bukan hanya tentang menghindari risiko manipulasi, tetapi juga tentang menempatkan modal kita pada perusahaan yang diminati oleh pasar yang lebih luas, termasuk investor institusional yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan harga secara berkelanjutan.

Jangan biarkan portofolio Anda dipenuhi oleh "Zombie Stocks".

Langkah Anda selanjutnya? Buka aplikasi sekuritas Anda sekarang juga, periksa rasio free float dari setiap saham yang Anda miliki. Apakah mereka memenuhi standar kelayakan investasi Anda, atau hanya sekadar standar kepatuhan minimum?

Artikel yang serupa