Alfamart vs Indomaret: Adu Cuan & Strategi di Balik Angka

RETORIS.ID staff

Dhanipro

07-02-2026

Alfamart vs Indomaret: Adu Cuan & Strategi di Balik Angka

Perbandingan strategi bisnis Alfamart vs Indomaret: Volume Game vs Yield Game, menampilkan tren keuangan 2024

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan pemandangan ini: di satu sudut jalan berdiri gerai Indomaret, dan tak jauh darinya, seolah tak mau kalah, terpampang papan nama Alfamart. Selama bertahun-tahun, kita melihat mereka sebagai rival yang identik, menjual produk serupa dengan tata letak yang mirip. Namun, jika Anda berpikir persaingan mereka hanya sebatas selisih harga sabun cuci piring seribu rupiah, Anda salah besar.

Laporan keuangan tahun 2024 membuka tabir yang mengejutkan. Di balik fasad yang serupa, kedua raksasa ritel ini ternyata menjalankan dua filosofi bisnis yang sangat berbeda. Alfamart, sang raja pendapatan, justru melihat labanya tergerus. Sementara itu, Indomaret, dengan pendapatan sedikit di bawahnya, berhasil melipatgandakan keuntungannya secara fantastis.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan lagi sekadar perang harga, melainkan pertarungan strategi fundamental: Volume Game Alfamart yang fokus pada penguasaan pasar melawan Yield Game Indomaret yang cerdik memaksimalkan profit dari setiap jengkal ruang tokonya.

Artikel ini akan membongkar data, menganalisis strategi, dan menjawab pertanyaan krusial: di tengah tekanan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen, strategi siapa yang terbukti lebih unggul dan paling cuan?

Kinerja Keuangan 2024: Saat Angka Tak Lagi Sejalan

Untuk memahami pergeseran ini, kita harus mulai dari data mentahnya. Laporan keuangan adalah cermin paling jujur dari kesehatan sebuah perusahaan. Di tahun 2024, cermin tersebut menunjukkan dua pantulan yang sangat kontras antara Alfamart dan Indomaret.

Alfamart (AMRT): Pendapatan Jumbo, Laba Tergerus Beban Operasional

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), pengelola Alfamart, kembali menegaskan posisinya sebagai pemimpin pasar dari sisi pendapatan. Perusahaan berhasil mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp118,22 triliun pada tahun 2024, naik 10,54% dari tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kompetitornya.

Namun, pendapatan yang besar tidak selalu berarti keuntungan yang besar. Laba bersih Alfamart justru menyusut 7,5% secara tahunan, dari Rp3,4 triliun pada 2023 menjadi Rp3,14 triliun pada 2024.

Sinyal tekanan semakin jelas ketika manajemen secara eksplisit mengumumkan penutupan sekitar 300 hingga 400 gerai sepanjang tahun 2024. Corporate Affairs Director Alfamart, Solihin, menyebut salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan biaya sewa yang "gila-gilaan," di mana beberapa lokasi mengalami kenaikan hingga 1.000% dalam 5 tahun.

Indomaret: Laba Meroket 103%, Apa Rahasianya?

Di sisi lain, PT Indomarco Prismatama (Indomaret) menyajikan cerita yang sangat berbeda. Meskipun pendapatannya sedikit lebih rendah, yaitu Rp112,8 triliun, angka laba bersihnya benar-benar mencuri perhatian.

Indomaret membukukan laba bersih sebesar Rp2,76 triliun pada 2024. Angka ini meroket 103,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang hanya sebesar Rp1,36 triliun.

Bagaimana mungkin dengan pendapatan yang lebih rendah, Indomaret bisa mencetak pertumbuhan laba yang begitu eksplosif sementara Alfamart justru tertekan? Jawabannya terletak pada strategi yang mereka jalankan.

Bongkar Strategi di Balik Angka: Volume Game vs. Yield Game

Perbedaan kinerja keuangan yang tajam ini bukanlah anomali, melainkan hasil dari dua pendekatan strategis yang berbeda secara fundamental.

Alfamart dan "Volume Game": Dominasi Pasar dengan Biaya Mahal

Strategi Alfamart dapat diringkas sebagai "Volume Game". Fokus utamanya adalah ekspansi fisik yang agresif untuk menguasai pangsa pasar seluas-luasnya. Hal ini terlihat dari kontribusi pendapatan mereka. Sepanjang 2024, pendapatan dari luar Pulau Jawa mencapai Rp43,38 triliun, hampir menyamai kontribusi dari Pulau Jawa (di luar Jabodetabek) yang sebesar Rp44,55 triliun.

Ini adalah strategi klasik untuk menjadi market leader: hadir di mana-mana, menjangkau lebih banyak konsumen, dan mengandalkan volume penjualan yang tinggi untuk menghasilkan keuntungan.

Namun, strategi ini memiliki pedang bermata dua. Ekspansi yang masif, terutama ke daerah-daerah terpencil, membawa konsekuensi biaya operasional dan logistik yang sangat besar. Ditambah lagi dengan lonjakan biaya sewa properti di lokasi-lokasi strategis, margin keuntungan kotor (gross margin) yang secara inheren sudah tipis di industri ritel menjadi semakin tertekan. Penutupan 400 gerai adalah bukti nyata bahwa strategi volume ini mulai tercekik oleh biayanya sendiri.

Indomaret dan "Yield Game": Sulap Toko Kelontong Jadi Kafe Mini

Indomaret, di sisi lain, tampaknya telah beralih ke "Yield Game". Alih-alih hanya fokus menambah jumlah gerai, mereka berinovasi untuk memaksimalkan pendapatan dan laba dari setiap meter persegi toko yang sudah ada.

Bagaimana caranya? Dengan mengubah sebagian kecil ruang toko kelontong mereka menjadi "kafe mini" yang menjual produk dengan margin keuntungan jauh lebih tinggi. Inilah peran krusial dari Point Coffee dan produk siap saji (Ready-to-Eat) lainnya.

Secangkir kopi atau sepotong roti memiliki margin laba yang jauh lebih tebal dibandingkan sebungkus mi instan atau sebotol air mineral. Dengan agresif mengembangkan Point Coffee, yang kini telah memiliki lebih dari 1.200 outlet, Indomaret secara efektif meningkatkan rata-rata profitabilitas per gerai tanpa harus menambah biaya sewa secara signifikan. Mereka tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual pengalaman dan kenyamanan dengan harga terjangkau bagi segmen milenial dan eksekutif muda.

Lonjakan laba 103,3% adalah buah dari strategi cerdas ini. Indomaret berhasil menemukan cara untuk meningkatkan "yield" atau hasil dari aset yang sudah mereka miliki.

Lebih dari Sekadar Kopi: Faktor Lain yang Mempengaruhi Profitabilitas

Tentu saja, strategi Point Coffee bukan satu-satunya faktor. Dinamika persaingan ritel jauh lebih kompleks dan melibatkan elemen-elemen klasik seperti harga, produk, dan promosi.

Perang Harga dan Persepsi Kualitas

Perbedaan harga antara kedua minimarket ini, meskipun seringkali hanya beberapa ratus hingga ribuan rupiah, tetap menjadi pertimbangan bagi konsumen. Ada persepsi bahwa Alfamart menjual produk dengan kualitas yang sedikit lebih baik, yang mungkin menjadi justifikasi untuk harganya yang terkadang lebih tinggi.

Faktor-faktor seperti kebijakan harga dari kantor pusat, negosiasi dengan pemasok, dan biaya operasional per wilayah turut memengaruhi harga akhir di rak. Ketatnya persaingan ini seringkali menguntungkan konsumen, namun di sisi lain juga menjaga margin laba perusahaan tetap rendah.

Kekuatan Promosi dan Kartu Member

Baik Alfamart maupun Indomaret sangat gencar dalam melakukan promosi untuk menarik pelanggan. Indomaret dikenal dengan promosi dua mingguan dan bulanan, sementara Alfamart cerdik memanfaatkan momen-momen khusus seperti Ramadhan atau promo JSM (Jumat, Sabtu, Minggu).

Keduanya juga menggunakan program loyalitas melalui kartu member. Keanggotaan ini tidak hanya memberikan diskon atau poin belanja, tetapi juga keuntungan lain seperti potongan harga di tempat rekreasi (untuk Alfamart) atau kemudahan pembayaran (Indomaret Card yang bisa digunakan untuk tol dan listrik). Strategi ini penting untuk membangun basis pelanggan setia di tengah persaingan yang ketat.

Pertanyaan Kunci: Berapa Sebenarnya Kontribusi Laba Point Coffee?

Ini adalah pertanyaan bernilai jutaan dolar. Mengingat lonjakan laba Indomaret yang fenomenal, wajar jika kita ingin tahu seberapa besar peran Point Coffee dalam pencapaian tersebut.

Sayangnya, kami tidak menemukan data publik yang secara spesifik merinci persentase kontribusi laba bersih dari Point Coffee terhadap total laba Indomaret. Laporan keuangan perusahaan induknya, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET), biasanya mengkonsolidasikan pendapatan dari berbagai segmen usaha tanpa memecahnya per merek secara detail.

Namun, kita bisa membuat kesimpulan kualitatif yang kuat. Ketika sebuah perusahaan mengalami lonjakan laba lebih dari 100% pada tahun yang sama saat mereka secara agresif mempromosikan lini bisnis baru dengan margin tinggi, sangat logis untuk menyimpulkan bahwa lini bisnis tersebut adalah penggerak utama (primary driver) dari pertumbuhan tersebut. Kontribusi Point Coffee, meskipun angkanya tidak kita ketahui, tidak diragukan lagi sangat signifikan.

Arah Masa Depan: Siapa yang Akan Memenangkan Pertarungan Jangka Panjang?

Kinerja 2024 menunjukkan bahwa strategi "Yield Game" Indomaret lebih unggul dalam menghasilkan profit. Namun, pertarungan ini masih jauh dari usai.

  • Tantangan Alfamart: Tantangan terbesar Alfamart adalah mengendalikan biaya operasional—terutama sewa dan logistik—tanpa harus mengorbankan pangsa pasar yang sudah susah payah dibangun. Mereka perlu mencari cara untuk meningkatkan efisiensi atau berinovasi seperti Indomaret untuk menaikkan margin per gerai.
  • Tantangan Indomaret: Keberhasilan Point Coffee pasti akan memancing kompetitor. Tantangan Indomaret adalah menjaga kualitas dan konsistensi seiring dengan skala yang terus membesar. Mereka juga harus waspada terhadap persaingan dari kedai kopi khusus yang semakin menjamur.

Pelajaran dari Dua Raksasa Ritel

Persaingan Alfamart dan Indomaret di tahun 2024 memberikan pelajaran bisnis yang sangat berharga. Alfamart menunjukkan bahwa menjadi yang terbesar dari sisi pendapatan tidak menjamin keuntungan yang sehat jika biaya operasional tidak terkendali. Di sisi lain, Indomaret membuktikan bahwa inovasi cerdas untuk meningkatkan profitabilitas dari aset yang ada (yield) bisa menjadi kunci untuk pertumbuhan laba yang eksplosif.

Untuk saat ini, strategi Indomaret yang fokus pada margin terbukti lebih ampuh. Mereka berhasil mengubah ancaman ruang toko yang mahal menjadi peluang dengan menciptakan sumber pendapatan baru yang sangat menguntungkan.

Bagaimana Menurut Anda?

Strategi mana yang menurut Anda akan lebih berkelanjutan dalam 5 tahun ke depan? Apakah "Volume Game" Alfamart akan menemukan cara untuk menjadi lebih efisien, atau akankah "Yield Game" Indomaret terus mendominasi lanskap profitabilitas ritel Indonesia?

Artikel yang serupa