DEWA: EBITDA Anjlok 91%, Kenapa Malah Dapat Utang Rp 6 T?

RETORIS.ID staff

Martini Ramadhani

04-01-2026

DEWA: EBITDA Anjlok 91%, Kenapa Malah Dapat Utang Rp 6 T?

Interest Coverage Paradox DEWA EBITDA

Pernahkah Anda melihat sebuah perusahaan yang kinerja operasionalnya tampak terjun bebas, namun pada saat yang sama justru mendapatkan guyuran dana triliunan rupiah dari bank-bank besar? Jika belum, mari kita lihat fenomena menarik pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Sahamnya menjadi incaran investor asing, masuk jajaran penopang IHSG, dan harganya terbang menembus rekor. Namun, di balik euforia pasar, ada sebuah data fundamental yang mengernyitkan dahi: EBITDA perusahaan anjlok lebih dari 91% pada tahun 2024.

Anehnya, di tengah penurunan drastis ini, DEWA justru berhasil mengamankan fasilitas kredit baru dengan total nilai mendekati Rp 6 triliun.

Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah bank tidak melihat data yang sama dengan kita? Ataukah ada cerita lain yang jauh lebih besar di balik angka-angka ini? Artikel ini akan membongkar diskoneksi ekstrem antara kinerja operasional DEWA saat ini dengan beban finansial raksasa yang baru saja mereka ambil. Ini bukan sekadar analisis angka, melainkan upaya memahami pertaruhan masa depan yang sedang dimainkan oleh manajemen DEWA.

Membedah Angka: Disparitas Ekstrem Kinerja DEWA EBITDA

Untuk memahami skala masalahnya, mari kita lihat langsung datanya. Laporan keuangan menunjukkan EBITDA DEWA pada tahun 2024 tercatat hanya sebesar Rp 16,5 miliar. Angka ini merupakan penurunan dramatis dari Rp 197,5 miliar yang dicatatkan pada tahun 2023.

Tahun EBITDA
2023 Rp 197.594.068.000
2024 Rp 16.568.724.000

Penurunan sebesar 91,6% ini bukanlah angka yang bisa diabaikan. EBITDA, atau Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization, adalah proksi paling umum untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari operasional intinya. Sederhananya, ini adalah napas bisnis perusahaan sebelum dipotong bunga, pajak, dan beban non-kas lainnya. Untuk penjelasan lebih detail, Anda bisa membaca panduan lengkap kami tentang apa itu EBITDA.

Ketika napas operasional sebuah perusahaan menyusut hingga sepersepuluhnya dalam setahun, lampu kuning biasanya akan menyala bagi para kreditur. Namun, yang terjadi pada DEWA justru sebaliknya.

Tsunami Utang Baru: Analisis Fasilitas Kredit Jumbo DEWA

Di saat kinerja operasionalnya sedang diuji, DEWA justru mendapatkan kepercayaan luar biasa dari lembaga keuangan. Pada akhir Desember 2025, perusahaan mengumumkan dua fasilitas kredit signifikan:

  1. Fasilitas dari Bank Central Asia (BCA): Total senilai Rp 1 triliun, terdiri dari Rp 850 miliar untuk modal kerja dan Rp 150 miliar untuk investasi pembelian alat berat baru.
  2. Fasilitas Kredit Sindikasi: Total senilai Rp 5 triliun (Rp 3,39 triliun untuk investasi dan Rp 1,61 triliun untuk modal kerja). Fasilitas ini digunakan untuk pembiayaan kembali utang eksisting serta mendanai pembelian mesin dan alat berat baru.

Jika kita jumlahkan, DEWA mengamankan akses ke dana segar dan restrukturisasi utang senilai total Rp 6 triliun. Dana ini secara eksplisit ditujukan untuk mendukung ekspansi operasi, termasuk pengambilalihan pekerjaan tambang dan modernisasi armada. Langkah ini dipandang pasar sebagai sinyal dukungan likuiditas yang kuat menjelang fase ekspansi besar-besaran pada 2026.

Namun, dukungan likuiditas ini memunculkan satu pertanyaan matematis yang sangat krusial.

Matematika yang Tidak Masuk Akal? Menghitung Beban Bunga vs. EBITDA

Mari kita lakukan perhitungan sederhana. Fasilitas kredit sindikasi investasi sebesar Rp 3,39 triliun memiliki suku bunga efektif sekitar 6,75%. Jika kita asumsikan suku bunga yang sama berlaku untuk porsi pinjaman investasi yang signifikan, mari kita hitung beban bunganya.

Beban bunga tahunan untuk pinjaman Rp 5 triliun dengan bunga 6,75% adalah sekitar:

Rp 5.000.000.000.000 x 6,75% = Rp 337.500.000.000 per tahun.

Sekarang, mari kita bandingkan angka ini dengan kinerja operasional terakhir perusahaan:

  • Estimasi Beban Bunga Tahunan: Rp 337,5 miliar
  • EBITDA Tahun 2024: Rp 16,5 miliar

Terlihat jelas, EBITDA yang dihasilkan pada tahun 2024 bahkan tidak cukup untuk membayar sepersepuluh dari estimasi beban bunga tahunannya. Dalam analisis keuangan, ini diukur dengan Interest Coverage Ratio (Rasio Kemampuan Bayar Bunga), yaitu EBITDA dibagi Beban Bunga. Untuk DEWA, rasionya adalah sekitar 0,05x.

Angka di bawah 1x sudah mengindikasikan kesulitan membayar bunga, dan angka 0,05x secara teoretis adalah bencana. Jadi, bagaimana mungkin bank-bank Tier-1 seperti BCA dan lainnya yang terlibat dalam sindikasi berani menyetujui fasilitas ini?

Jawabannya: Mereka tidak memberikan pinjaman berdasarkan kinerja DEWA di tahun 2024.

Di Balik Persetujuan Kredit: Jaminan Aset atau Kontrak Masa Depan?

Persetujuan kredit jumbo dalam kondisi seperti ini mengindikasikan bahwa pinjaman ini tidak didasarkan pada kinerja historis, melainkan pada jaminan nilai di masa depan. Ada dua kemungkinan utama yang bisa menjelaskan keputusan para kreditur:

  1. Agunan Aset (Collateral) yang Sangat Kuat: DEWA mungkin menjaminkan aset-aset bernilai tinggi dan likuid yang nilainya jauh melampaui jumlah pinjaman. Aset ini memberikan jaring pengaman bagi bank jika perusahaan gagal memenuhi kewajibannya.
  2. Jaminan Arus Kas Masa Depan (Future Cash Flow): Ini adalah skenario yang paling mungkin. Bank telah melihat dan memvalidasi adanya kontrak-kontrak jangka panjang yang akan memberikan pendapatan signifikan bagi DEWA di masa depan.

Bukti terkuat mengarah pada skenario kedua. Manajemen DEWA secara terbuka menyatakan rencana ekspansi operasional besar pada 2026. Rencana ini mencakup:

  • Pengambilalihan operasional penuh di tambang Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) setelah kontrak subkontraktor berakhir pada akhir 2025.
  • Pengejaran kontrak baru di proyek Arutmin dan beberapa peluang lainnya.

Langkah ini akan mengubah posisi DEWA dari sekadar subkontraktor menjadi operator utama, yang berpotensi membuka margin keuntungan yang jauh lebih besar. Kontrak-kontrak inilah yang kemungkinan besar menjadi "jaminan tak terlihat" bagi para bank. Mereka tidak meminjamkan uang kepada DEWA dengan EBITDA Rp 16,5 miliar, melainkan kepada calon DEWA yang akan mengoperasikan tambang Bengalon dan Arutmin dengan potensi pendapatan triliunan.

Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah ada corporate guarantee dari induk atau afiliasi seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menjadi penjamin utama fasilitas ini? Ini adalah praktik umum dalam grup usaha besar untuk mendukung anak usahanya, dan bisa menjadi faktor penentu yang membuat bank berani mengabaikan rasio EBITDA 2024 yang lemah.

Sentimen Pasar vs. Realitas Fundamental: Mengapa Saham DEWA Tetap 'Terbang'?

Jika kita hanya melihat data EBITDA 2024, saham DEWA seharusnya berada dalam tekanan jual. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Saham DEWA justru diborong oleh big fund seperti CGS International Sekuritas dan menjadi salah satu saham yang paling banyak dibeli investor asing di awal tahun 2026.

Mengapa? Karena pasar saham adalah mekanisme yang berorientasi ke depan (forward-looking).

Investor saat ini tidak lagi melihat EBITDA Rp 16,5 miliar. Mereka melihat:

  • Pendanaan Ekspansi Telah Aman: Utang Rp 6 triliun adalah konfirmasi bahwa rencana ekspansi 2026 bukan lagi sekadar wacana, melainkan proyek yang sudah didanai.
  • Peluang Dividen: Proses reklasifikasi ekuitas yang sedang berjalan membuka peluang bagi DEWA untuk mulai membagikan dividen pada tahun 2026, setelah bertahun-tahun absen. Ini adalah sentimen yang sangat positif bagi investor jangka panjang.
  • Dukungan Grup Usaha: Sebagai bagian dari ekosistem Grup Bakrie, DEWA mendapat keuntungan dari sinergi dan potensi dukungan dari perusahaan afiliasi yang lebih besar.

Pasar bertaruh bahwa utang yang diambil hari ini akan menjadi mesin pencetak laba yang jauh lebih besar dalam 2-3 tahun ke depan. Mereka "membeli rumor" tentang ekspansi dan "akan menjual saat berita" realisasi kinerjanya sudah keluar.

Pertaruhan Besar DEWA pada Proyeksi Masa Depan

Diskoneksi antara anjloknya DEWA EBITDA pada 2024 dan diperolehnya fasilitas utang jumbo Rp 6 triliun bukanlah sebuah keanehan, melainkan sebuah langkah strategis yang terkalibrasi. Ini adalah pertaruhan besar yang didasarkan sepenuhnya pada proyeksi kinerja masa depan, bukan realitas masa lalu.

Manajemen DEWA, dengan dukungan para kreditur, secara efektif mengatakan: "Abaikan kinerja kami saat ini. Lihatlah kontrak dan potensi yang akan kami eksekusi pada 2026."

Bagi investor, ini menyajikan dua sisi mata uang:

  • Peluang (Upside): Jika DEWA berhasil mengeksekusi rencana ekspansinya di Bengalon dan Arutmin, lonjakan pendapatan dan laba bisa sangat signifikan, yang akan memvalidasi harga sahamnya saat ini dan mendorongnya lebih tinggi.
  • Risiko (Downside): Beban utang Rp 6 triliun adalah pedang bermata dua. Jika terjadi penundaan proyek, masalah operasional, atau harga komoditas yang tidak mendukung, beban bunga Rp 337,5 miliar per tahun akan menjadi jangkar yang sangat berat bagi laporan keuangan perusahaan.

Sebagai investor, langkah paling bijak saat ini adalah tidak hanya terpukau oleh kenaikan harga saham. Lakukan riset mendalam Anda sendiri, pantau perkembangan eksekusi proyek-proyek kunci DEWA, dan perhatikan bagaimana mereka mengelola beban utang masif ini dalam laporan keuangan kuartalan mendatang. Kunci kesuksesan investasi di saham DEWA tidak terletak pada kinerjanya kemarin, tetapi pada kemampuannya mewujudkan janjinya untuk hari esok.

Artikel ini bukan anjuran beli/jual saham. Investasi adalah keputusan dan risiko Anda sendiri. Selalu lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi.

Artikel yang serupa