martini-ramadhani

RETORIS.ID staff

martini ramadhani

16-10-2026

Laba Rp252 Miliar Tak Menghentikan Longsor Saham GOTO

Ilustrasi editorial gedung kantor dan grafik saham merah menurun berdampingan, menggambarkan laba kuartalan yang tak menghentikan tekanan harga GOTO.

Dua fakta tentang PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kini berjalan berdampingan, dan keduanya sama-sama sulit dibantah. Pertama, emiten teknologi itu membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II-2026 — laba dua kuartal berturut-turut — dengan pendapatan bersih tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun. Kedua, dalam rentang 30 hari yang sama, harga sahamnya kehilangan hampir separuh nilai. Pemberitaan soal saham GOTO, laba Rp252 miliar, dan harga anjlok itu menggoda siapa pun untuk merangkai keduanya menjadi satu kalimat sebab-akibat: entah "pasar salah menilai", entah "laba itu tidak berarti".

Laporan ini memilih tidak melakukan keduanya. Yang bisa dibuktikan dari dokumen adalah tekanan harga ekstrem dan perbaikan angka kuartalan yang terjadi berdampingan. Membaca keduanya sebagai satu rangkaian kausal — apalagi menyimpulkannya sebagai "penurunan murni teknis" atau "sinyal bullish" — adalah dramatisasi yang melebihi bukti.

Perbaikan Kinerja Kuartalan GOTO Q2-2026: Nyata, tapi Punya Batas

Mulailah dari angka yang disampaikan perusahaan. Pada kuartal II-2026, GOTO mencetak laba bersih Rp252 miliar, naik sekitar 47% dari Rp171 miliar pada kuartal sebelumnya, dengan pendapatan bersih Rp5,7 triliun dan adjusted EBITDA lebih dari Rp1 triliun. Head of Corporate Affairs GOTO Audrey Petriny menyebut perusahaan "tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2–3,4 triliun".

Angka-angka itu layak dicatat sebagai capaian. Namun perlu ditakar proporsinya: ini adalah perbaikan kinerja kuartalan, bukan laporan arus kas setahun penuh, bukan pula bukti otomatis bahwa pasar keliru menilai sahamnya. Manajemen sendiri yang menegaskan narasi "fundamental terus menguat", dan narasi itu sepatutnya dibaca sebagai klaim yang masih menunggu pembuktian berkelanjutan — bukan sebagai kesimpulan.

Gocap Dibuka, Harga Menemukan Lantainya Sendiri

Di sisi lain, mekanika pasar mencatat kronologi yang keras. Sejak Mei 2026, saham GOTO tertahan di harga minimum Rp50 — sebutan pasar menyebutnya "gocap". Mulai 28 September 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan batas harga minimum di pasar reguler dan tunai menjadi Rp1. Gocap BEI dan batas harga minimum Rp1 itu membuka pintu yang selama berbulan-bulan menahan penurunan.

Begitu batas dibuka, saham GOTO langsung menyentuh auto reject bawah dua hari berturut-turut ke Rp37, lalu turun hingga Rp27 pada sesi I perdagangan 2 Oktober 2026, sebelum memantul ke Rp30. Pada hari yang sama, investor asing mencatat jual bersih atau net foreign sell GOTO senilai Rp927,64 miliar — terbesar di antara saham lain di bursa. Sepanjang 2026 hingga awal September, GOTO sudah membukukan net foreign sell Rp2,69 triliun. Per 13 Oktober, saham ini terperosok 46% dalam sebulan dan anjlok 57,81% secara year to date, dengan kapitalisasi pasar Rp30,80 triliun — menyusut dari Rp57,03 triliun saat harga masih stagnan di Rp50 sebulan sebelumnya. Dari harga penawaran umum perdana Rp338 per saham pada 11 April 2022, ketika GOTO melepas 40,61 miliar saham seri A dan meraup Rp13,73 triliun, harga kini tersisa kurang dari sepersepuluh.

Penghapusan Indeks FTSE–MSCI dan Klaim 'Faktor Teknis'

Manajemen GOTO menilai gejolak ini dipicu faktor teknis, bukan kinerja bisnis. Saham GOTO telah dikeluarkan dari indeks FTSE GEIS Mid Cap sejak 22 Juni 2026 dan dari MSCI Global Standard Indexes sejak 31 Agustus 2026. Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GOTO, R.A. Koesoemohadiani, menjelaskan dalam surat ke BEI bahwa dana pasif pengacu indeks tersebut wajib menjual saham GOTO, tetapi rendahnya volume perdagangan membuat penjualan tertahan; setelah batas harga minimum dihapus, pemegang saham yang terbendung itu akhirnya bisa keluar. "Perseroan meyakini harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat," tulis manajemen.

Kronologi itu menjadikan faktor teknis sebagai penjelasan yang masuk akal — tetapi kata "murni" di dalamnya belum teruji. Tekanan terhadap saham ini berjalan jauh lebih panjang dari jendela pasca-gocap: penurunan 57,81% sepanjang tahun berjalan melampaui dua pekan terakhir September, dan harga yang "stagnan" persis di batas bawah selama tiga bulan justru bisa dibaca sebagai gejala permintaan yang tipis, bukan ketiadaan tekanan. Pertanyaan teknis soal dampak rebalancing MSCI terhadap likuiditas saham — soal distribusi transaksi, kedalaman order book, dan siapa penjual sesungguhnya — tetap menunggu jawaban berbasis data, bukan keyakinan korporasi.

Anomali di Layar: Oversold Tanpa Volume

Di luar dokumen resmi, data pasar sekunder yang dihimpun redaksi dari penyedia data keuangan global menambah teka-teki. Perlu ditegaskan di sini: angka-angka berikut bukan berasal dari keterbukaan informasi emiten, BEI, maupun Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan hingga tulisan ini dibuat tidak dapat diverifikasi silang dari dokumen resmi — perlakukan sebagai indikasi, bukan konfirmasi.

Data tersebut mencatat harga terakhir di level 25, turun 50% dalam 30 hari, serta diperdagangkan jauh di bawah rata-rata bergerak 20, 50, dan 200 hari (masing-masing sekitar 35,2; 44,08; dan 52,6). Indikator RSI 14-hari berada di 17,9 — wilayah oversold, kondisi ketika momentum jual secara teknikal sudah ekstrem. Yang ganjil: tekanan sedalam itu terjadi tanpa lonjakan volume. Volume terakhir hanya 0,15 kali rata-rata volume 20 hari. Dari sisi valuasi, price to book GOTO tercatat 0,82 — di bawah nilai buku — namun forward P/E -4,70 menandakan ekspektasi earnings yang masih negatif. Artinya, label "murah" yang muncul dari satu metrik tidak didukung metrik berbasis laba; rasio price to book GOTO yang berada di bawah nilai buku itu tidak otomatis berarti diskon.

Anomali serupa muncul di sisi analis. Bloomberg Technoz mencatat, per 7 Oktober 2026 — setelah kejatuhan September — konsensus analis masih didominasi 22 rekomendasi beli, enam tahan, dan satu jual, dengan target harga rata-rata sekitar Rp70,5: lebih dari dua kali lipat harga pasar. Kesenjangan antara target dan harga itu adalah fakta yang berdiri sendiri sebagai kontradiksi, bukan sinyal beli. Dan anomali RSI oversold GOTO dengan volume rendah menyisakan pertanyaan yang hingga kini belum punya penjelasan data: jika momentum jual sudah seekstrem itu tanpa volume yang keluar, siapa sebenarnya yang menahan — dan mengapa?

Transaksi Morgan Stanley: Yang Tercatat, dan yang Tidak

Satu nama institusi muncul berulang dalam keterbukaan informasi. Morgan Stanley & Co. International Plc membeli 3,8 miliar saham GOTO di harga Rp23 pada 21 Agustus 2026 senilai Rp87,3 miliar. Pada 2 September 2026, perusahaan itu menyerok 21.919.002.926 saham di harga Rp25 — total sekitar Rp547,98 miliar — sehingga kepemilikannya melonjak dari 65,81 miliar lembar (5,7157%) menjadi 87,49 miliar lembar (7,5986%). Aksi Morgan Stanley memborong saham GOTO menjelang keluarnya GOTO dari MSCI itu lalu diikuti penjualan sekitar 7,4 miliar saham di harga rata-rata Rp25,39 hanya dua hari kemudian.

Rangkaian berlanjut. Per 23 September, kepemilikan Morgan Stanley tercatat 80,41 miliar saham atau 6,98%. Pada 12 Oktober 2026, berdasarkan laporan kepemilikan yang disampaikan melalui KSEI, mereka menjual 1.749.199.000 saham di harga Rp29 (senilai Rp50,73 miliar) dan pada hari yang sama membeli 151.774.300 saham di harga Rp27 (senilai Rp4,10 miliar) — mencatat penjualan bersih 1,597 miliar saham dan menurunkan kepemilikannya dari 70,27 miliar lembar (6,103%) menjadi 68,67 miliar lembar (5,9642%).

Dari dokumen itu, yang bisa dihitung hanyalah selisih Rp2 per saham pada volume yang saling berpasangan — sekitar Rp303,55 juta — dan itu pun bersifat ilustratif. Harga perolehan atas sisa 1,6 miliar saham yang dilepas tidak dipublikasikan. Dengan kata lain, transaksi Morgan Stanley di saham GOTO adalah fakta aktivitas yang terdokumentasi rapi; motifnya tidak. Narasi bahwa perusahaan itu "mengambil untung dari volatilitas", sebagaimana yang beredar di percakapan pasar, melampaui apa yang bisa dibuktikan keterbukaan informasi.

Boy Thohir: Menahan Saham Bukan Berarti Meyakini Saham

Di sudut lain, Garibaldi Thohir — Boy Thohir, Presiden Direktur Grup Alamtri dan pemilik Grup Adaro — mengaku masih menggenggam sekitar 1,05 miliar lembar saham seri A GOTO, setara 0,10% menurut laporan keuangan 2025, atau 0,08% merujuk prospektus IPO. Ditanya dalam kanal YouTube The Overpost yang dipandu praktisi pasar modal Leon Hartono mengapa tidak melepasnya, ia menjawab: "Enggak juga as simple as mau cut loss, cut loss-nya terlalu banyak. Jadi saya bilang udahlah diamin aja nanti kita liat".

Boy, yang mundur dari kursi Komisaris GOTO pada awal Mei 2025 dan digantikan Pablo Malay, mengaku masih kagum pada Gojek — ia membandingkan penciptaan lapangan kerjanya dengan perjalanan Astra yang memakan waktu puluhan tahun. Tetapi keputusan menahan saham karena kerugian yang telanjur terlalu besar adalah aritmetika cut loss, bukan penilaian fundamental. Mengutipnya sebagai sinyal keyakinan terhadap GOTO berarti membebani ucapan pribadi dengan makna yang tidak dikatakannya sendiri — dan data kepemilikannya pun berasal dari laporan 2025, bukan per hari ini.

32,19 Miliar Saham Treasuri Dibatalkan

Sehari sebelum laporan transaksi Morgan Stanley dirilis, GOTO menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 14 Oktober 2026 dan menyetujui seluruh agenda. Salah satunya: pembatalan 32,19 miliar saham treasuri GOTO seri A hasil buyback periode 12 Juni 2024–11 Juni 2025 — saham yang semula dialokasikan untuk program kepemilikan saham karyawan dan manajemen (ESOP/MSOP), yang kemudian dibatalkan perseroan. Presiden Komisaris Agus Martowardojo menyebut langkah itu akan "meningkatkan porsi kepemilikan mereka secara proporsional".

Secara administratif pernyataan itu benar; secara ekonomi ia belum terbukti. Porsi yang membesar secara nominal tidak identik dengan perbaikan laba, arus kas, atau nilai investasi — dan ada pihak yang justru kehilangan dari pembatalan itu: karyawan calon penerima ESOP/MSOP. RUPSLB yang sama menyetujui pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo dari jabatan Wakil Direktur Utama. GOTO juga masih mengantongi restu buyback hingga Rp3,5 triliun yang berlaku sejak 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027 — sebuah wewenang besar yang tak bisa dilepaskan dari pertanyaan soal program buyback Rp3,5 triliun GOTO dan nasib investor ritel yang terjebak sejak IPO.

Siapa yang Belum Terwakili

Dari seluruh narasi yang tersedia, beberapa pihak nyaris tak bersuara. Investor ritel yang masuk sejak harga IPO Rp338 menanggung kerugian terdalam, namun tidak muncul dalam satu pun dokumen resmi. Dana pasif yang konon "wajib menjual" disebut keberadaannya tanpa pernah diidentifikasi: siapa mereka, berapa besar, kapan selesai. Karyawan pemegang ESOP/MSOP kehilangan alokasi yang sudah dijanjikan. Dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setidaknya dalam narasi publik yang terhimpun hingga tulisan ini dibuat, belum tercatat angkat bicara soal gejolak harga maupun transaksi besar di sekitarnya.

Dua pertanyaan juga tetap terbuka dan tidak akan dijawab artikel ini dengan spekulasi: bagaimana kronologi lengkap dan bobot masing-masing faktor — penghapusan indeks, pembukaan gocap, ekspektasi earnings — dalam kejatuhan harga; dan apa penjelasan data di balik anomali oversold tanpa volume.

Catatan Proporsional

Pada akhirnya, cerita saham GOTO — laba Rp252 miliar di satu tangan, harga anjlok di tangan lain — bukanlah teka-teki yang harus dipaksa punya satu jawaban. Yang terbukti: tekanan harga ekstrem, arus jual asing besar, transaksi institusional raksasa, pembatalan saham treasuri dalam jumlah material, dan perbaikan angka kuartalan yang nyata. Yang belum terbukti: siapa yang untung, apa motif di balik tiap transaksi, dan apakah kejatuhan ini semata-mata teknis. Menimbang bukti yang berdampingan tanpa mengarang benang sebab-akibat mungkin terasa kurang memuaskan. Tetapi bagi pembaca yang menaruh uangnya di saham ini, proporsi adalah bentuk penghormatan paling dasar — dan paling jarang diberikan.

Artikel yang serupa

Buyback GOTO Dibatalkan: Berapa Harga Beli Rata-ratanya?

Buyback GOTO Dibatalkan: Berapa Harga Beli Rata-ratanya?

Saham GOTO: Dua Cerita dalam Satu Ticker

Saham GOTO: Dua Cerita dalam Satu Ticker

Laporan Tak Diaudit, Narasi Bisnis BCA Solid

Laporan Tak Diaudit, Narasi Bisnis BCA Solid