
IPO Kopi Kenangan: Siapa yang Menandatangani P/E 58x?
![]()
Ketika Kopi Kenangan akhirnya membunyikan bel IPO dengan valuasi yang dibidik US$1 miliar, investor ritel yang membeli saham pada hari pertama pencatatan secara matematis membutuhkan waktu 58 tahun laba perusahaan untuk balik modal — dengan asumsi laba tidak tumbuh sesenpun. Ini bukan lagi soal apakah Anda suka Es Kopi Susu Tetangga mereka atau tidak. Ini soal apakah Anda bersedia membayar harga saham perusahaan teknologi untuk bisnis yang menjual kopi dari gerai fisik.
Angka itu datang dari perhitungan sederhana: valuasi US$1 miliar dibagi laba bersih US$17 juta yang dibukukan sepanjang 2025 menghasilkan Price-to-Earnings (P/E) ratio sekitar 58 kali lipat. Untuk konteks, rasio tersebut adalah wilayah valuasi perusahaan teknologi berpertumbuhan eksponensial — bukan kedai kopi yang memerlukan belanja modal besar setiap kali membuka gerai baru.
Model Bisnis Kopi vs Platform Digital
PT Bumi Berkah Boga, nama resmi di balik merek Kopi Kenangan, mengoperasikan lebih dari 1.300 gerai fisik di enam negara: Indonesia, Singapura, Malaysia, India, dan Australia. Sepanjang 2026, perusahaan menargetkan penambahan sekitar 550 gerai baru. Setiap gerai membutuhkan investasi untuk sewa lokasi, peralatan, inventori, dan tenaga kerja — biaya yang harus dikeluarkan berulang kali untuk setiap unit ekspansi.
Bandingkan dengan perusahaan perangkat lunak atau platform digital yang biaya marginalnya mendekati nol setelah produk dikembangkan. Menambah satu juta pengguna baru di aplikasi tidak memerlukan pembangunan infrastruktur fisik baru. Tapi menambah satu gerai kopi baru? Itu cerita yang sangat berbeda.
Inilah mengapa P/E ratio 58x terasa janggal untuk bisnis food & beverage (F&B). Menurut riset PT Bank Permata Tbk, biaya bahan baku menyerap hingga 64,1% dari total biaya produksi industri minuman. Artinya, margin laba sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas — dalam hal ini, kopi robusta global yang sempat mencapai rata-rata US$4,86 per kilogram sepanjang 2025 sebelum melandai ke US$3,85 per kilogram pada semester II-2026.
Dengan struktur biaya seperti itu, pertanyaan krusial bagi calon investor adalah: metrik fundamental apa yang membenarkan valuasi setara perusahaan teknologi untuk bisnis yang bergantung pada biji kopi impor dan gerai fisik?
Narasi Unicorn, Realitas Belanja Modal
Kopi Kenangan memang menyandang status unicorn — perusahaan rintisan dengan valuasi di atas US$1 miliar — dan menjadi yang pertama di sektor F&B Asia Tenggara. Narasi ini menarik, terutama ketika didukung oleh investor ternama seperti petenis Serena Williams melalui Serena Ventures dan rapper Jay-Z lewat Roc Nation, yang masuk pada 2019. Alpha JWC Ventures dan Sequoia India juga tercatat sebagai penyandang dana awal.
Tapi label "unicorn" tidak otomatis menjamin return investasi bagi pembeli saham di pasar sekunder. Yang menentukan adalah apakah perusahaan mampu menghasilkan arus kas bebas yang cukup untuk membiayai pertumbuhan tanpa terus membakar modal investor.
CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata mengklaim pendapatan bersih perusahaan pada 2025 mencapai US$184 juta, tumbuh 45% dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA tercatat US$37 juta, dan manajemen memproyeksikan angka ini melonjak menjadi US$69 juta pada 2026 dengan margin EBITDA 26%. Jika terealisasi, proyeksi tersebut menggambarkan perusahaan mulai menikmati skala ekonomi.
Namun proyeksi adalah proyeksi. Angka-angka tersebut belum menjadi realisasi, dan investor perlu mencermati asumsi di baliknya. Salah satu indikator yang belum diungkap secara publik adalah same-store sales growth (SSSG) — ukuran produktivitas gerai yang sudah beroperasi, tanpa efek pembukaan gerai baru. SSSG yang sehat menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan bukan sekadar hasil dari ekspansi fisik, melainkan peningkatan daya tarik merek dan loyalitas pelanggan di lokasi yang sudah ada.
Tanpa data SSSG yang transparan, ada risiko bahwa pertumbuhan pendapatan hanya didorong oleh pembukaan ratusan gerai baru — strategi yang bisa jadi tidak berkelanjutan jika gerai-gerai lama mulai stagnan atau bahkan mengalami penurunan penjualan.
Siapa yang Menanggung Risiko Valuasi Ini?
Rencana IPO Kopi Kenangan masih dalam tahap awal. Wakil Presiden Bidang Keuangan Korporat dan Pengembangan Kopi Kenangan Junxian Li menegaskan belum ada keputusan final terkait waktu pelaksanaan, lokasi pencatatan saham, atau valuasi. Singapura disebut sebagai salah satu bursa yang dipertimbangkan, meski belum ada bank investasi yang secara resmi ditunjuk.
Yang menarik adalah pemilihan Singapura alih-alih Bursa Efek Indonesia. Keputusan ini bisa jadi murni strategis untuk mengakses investor internasional, tapi juga bisa menjadi sinyal bahwa fund manager domestik lebih skeptis terhadap valuasi yang diminta. Investor Indonesia yang pernah menyaksikan penurunan tajam saham teknologi seperti GoTo dan Bukalapak kini jauh lebih selektif terhadap perusahaan rintisan yang belum menghasilkan arus kas stabil.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa persen dari dana IPO US$1 miliar tersebut benar-benar akan digunakan untuk ekspansi produktif, dan berapa persen yang akan dipakai untuk membeli kembali saham lama milik investor awal yang ingin keluar di harga premium?
Dalam banyak kasus IPO, terutama yang melibatkan venture capital tahap awal, sebagian dana yang dihimpun dari publik digunakan untuk memberikan "exit liquidity" bagi investor lama — bukan semata-mata untuk memperkuat neraca perusahaan. Investor ritel perlu mengetahui proporsi penerbitan saham baru (yang masuk ke kas perusahaan) versus penjualan saham sekunder (yang masuk ke kantong pemegang saham lama). Informasi ini biasanya tercantum dalam prospektus, tapi belum tersedia untuk publik saat ini.
Tantangan Operasional yang Mengintai
Di luar soal valuasi, Kopi Kenangan menghadapi tantangan operasional nyata yang bisa menggerus margin laba. Harga kopi robusta global — bahan baku utama produk mereka — masih bertahan di level tinggi meski sudah turun dari puncaknya. Sementara itu, nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah hingga Rp18.000-Rp18.150 per dolar AS pada kuartal III-2026. Kombinasi harga bahan baku dalam dolar dan pelemahan rupiah adalah resep klasik untuk tekanan margin.
Belum lagi tantangan ekspansi internasional. India dan Australia adalah dua pasar kopi yang sangat kompetitif dengan pemain lokal yang sudah mapan. Membuka ratusan gerai di pasar baru memerlukan investasi pemasaran besar dan periode balik modal yang lebih panjang. Jika gerai internasional belum mandiri secara arus kas, laba dari gerai di Indonesia bisa tersedot untuk mensubsidi operasional luar negeri — situasi yang tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.
Perbandingan dengan emiten kopi lain bisa memberikan perspektif. PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) melakukan IPO di BEI pada 15 April 2024 dengan harga penawaran Rp188 per saham. Dua tahun kemudian, harga sahamnya mencapai Rp630, naik 235% dari harga IPO. Namun perjalanan FORE juga menunjukkan bahwa penggunaan dana IPO tidak selalu berjalan sesuai rencana awal. Realisasi belanja modal sering kali meleset dari target, dan investor perlu memantau apakah dana benar-benar digunakan untuk tujuan produktif.
Pertanyaan untuk Penjamin Emisi
Sebelum investor ritel memasukkan uang mereka, penjamin emisi yang kelak ditunjuk memiliki kewajiban untuk menjelaskan beberapa hal secara transparan:
Pertama, metode valuasi apa yang digunakan untuk sampai pada angka US$1 miliar? Apakah berbasis P/E, EV/EBITDA, atau multiple perusahaan pembanding? Dan jika menggunakan pembanding, perusahaan mana yang dipilih — apakah sesama rantai kopi regional atau perusahaan teknologi konsumen?
Kedua, bagaimana proyeksi pertumbuhan laba yang mendasari valuasi tersebut? Apakah asumsi pertumbuhan 45% per tahun akan terus berlanjut, atau sudah ada penyesuaian yang lebih konservatif? Dan yang lebih penting, apakah proyeksi ini akan dicantumkan dalam prospektus atau hanya disampaikan dalam roadshow tertutup kepada investor institusi?
Ketiga, bagaimana perusahaan mengelola risiko fluktuasi harga bahan baku dan nilai tukar? Apakah ada kontrak lindung nilai (hedging) jangka panjang, atau margin laba sepenuhnya terekspos terhadap volatilitas pasar komoditas?
Keempat, berapa angka SSSG aktual untuk gerai yang sudah beroperasi lebih dari satu tahun? Ini adalah indikator kunci untuk menilai apakah pertumbuhan pendapatan organik atau sekadar hasil dari ekspansi fisik yang membakar modal.
Bukan Soal Anti-IPO, Tapi Soal Harga yang Wajar
Artikel ini bukan bermaksud menyarankan investor untuk menghindari saham Kopi Kenangan. Perusahaan ini memiliki merek yang kuat, jaringan distribusi luas, dan rekam jejak pertumbuhan yang impresif. Edward Tirtanata dan timnya telah membangun bisnis dari satu gerai seluas 12 meter persegi di belakang lift pada 2017 menjadi jaringan lebih dari 1.300 gerai dalam waktu kurang dari satu dekade.
Tapi ada perbedaan besar antara perusahaan yang bagus dan saham yang bagus. Perusahaan yang bagus bisa menjadi investasi buruk jika Anda membelinya di harga yang terlalu mahal. Dan P/E ratio 58x untuk bisnis F&B padat modal adalah harga yang memerlukan justifikasi luar biasa kuat.
Investor ritel — yang kemungkinan besar akan menjadi target penjatahan saham dalam IPO ini — berhak mendapatkan penjelasan yang jelas dan terukur mengenai mengapa mereka harus membayar premi valuasi teknologi untuk kedai kopi. Transparansi mengenai alokasi dana IPO, metrik operasional seperti SSSG, dan strategi mitigasi risiko bukan sekadar "nice to have" — ini adalah hak dasar investor untuk membuat keputusan yang terinformasi.
Jika penjamin emisi dan manajemen Kopi Kenangan tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka investor sebaiknya menunggu hingga perusahaan benar-benar terbukti mampu mempertahankan profitabilitas di tengah tekanan operasional — atau hingga harga sahamnya turun ke level yang lebih mencerminkan realitas bisnis F&B, bukan fantasi valuasi unicorn.
Karena pada akhirnya, yang menentukan return investasi Anda bukan seberapa keren cerita "dari gerai 12 meter persegi jadi unicorn" — tapi seberapa realistis Anda membayar untuk setiap rupiah laba yang perusahaan hasilkan. Dan 58 kali lipat laba tahunan adalah harga yang sangat, sangat mahal untuk secangkir kopi.
Artikel yang serupa
Setahun Setelah IPO, Dana Fore Masih Mengendap di Giro
Menguji Valuasi Transfer Aset Anak Usaha Bank ke Danantara
Mesin Permintaan Baru BUMI: Mengapa IDX30 Bukan Validasi
Popular Post
Komisaris Holywings Dilaporkan: Jejak Dana Timothy Ronald
Dibalik Aplikasi Seller Meta: Pergeseran Biaya Platform
Kejagung Menyidik Bekas Petingginya: Sinergi Palsu Rp5T?
Menguji Valuasi Transfer Aset Anak Usaha Bank ke Danantara
Rantai Pasok Kopdes: Belanja ke Indomarco atau Koperasi Lokal?
Sosial


