Dana IPO FORE: Bensin Ekspansi atau 'War Chest' Rahasia?

RETORIS.ID staff

Martini Ramadhani

15-01-2026

Dana IPO FORE: Bensin Ekspansi atau 'War Chest' Rahasia?

Ilustrasi Dana IPO FORE Kopi

Bagi para pelaku pasar modal, narasi adalah segalanya. Saat PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mengumumkan rencana Initial Public Offering (IPO) pada Maret 2025, narasinya jelas: menggalang dana segar untuk membiayai ekspansi gerai yang agresif di seluruh Indonesia. Namun, sembilan bulan setelah resmi melantai di bursa, sebuah paradoks menarik mulai terlihat. Di satu sisi, gerai-gerai baru terus bermunculan. Di sisi lain, sebagian besar dana hasil IPO justru masih "mengendap" nyaman di rekening bank.

Fenomena ini memicu pertanyaan krusial bagi investor dan analis: Apakah ada diskoneksi antara cerita yang dijual saat IPO dengan strategi yang dieksekusi? Atau, mungkinkah kita sedang menyaksikan sebuah manuver keuangan cerdas yang menyiratkan kekuatan fundamental jauh lebih besar dari yang diperkirakan? Artikel ini akan membongkar teka-teki di balik penggunaan dana IPO FORE, menganalisis apa arti simpanan dana ratusan miliar tersebut, dan memproyeksikan langkah strategis apa yang mungkin sedang dipersiapkan oleh manajemen.

Paradoks Fore Coffee: Ekspansi Agresif, Dana IPO 'Mengendap'

Sejak didirikan pada 2018, Fore Coffee telah menjadi salah satu pemain dominan dalam budaya kopi modern di Indonesia. Pertumbuhannya fenomenal. Per September 2024, perusahaan telah memiliki 217 gerai di 43 kota, termasuk ekspansi internasional pertamanya di Singapura. Angka ini melonjak menjadi 232 gerai pada akhir 2024.

Untuk melanjutkan momentum ini, manajemen mengumumkan rencana ambisius pada tahun 2025: menganggarkan belanja modal (Capex) sebesar Rp220 miliar untuk membuka 70 gerai baru. Sebagian besar dana untuk Capex ini, menurut prospektus, akan berasal dari hasil IPO.

Namun, data berbicara lain. Laporan realisasi penggunaan dana IPO per 31 Desember 2025 menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Dari total dana bersih IPO sebesar Rp337,19 miliar, FORE baru menggunakan Rp101,8 miliar. Dari jumlah tersebut, hanya Rp100,8 miliar yang dialokasikan untuk ekspansi gerai baru.

Mari kita berhenti sejenak dan cerna angka ini. Manajemen menargetkan Capex Rp220 miliar untuk setahun, tetapi setelah sembilan bulan, realisasi dari dana IPO hanya mencapai Rp100,8 miliar. Lebih mencengangkan lagi, sisa dana IPO sebesar Rp235,3 miliar—hampir 70% dari total perolehan bersih—hanya disimpan dalam bentuk giro di Bank Mandiri dengan bunga sekitar 5%.

Ini adalah sebuah anomali. Mengapa sebuah perusahaan yang sedang gencar berekspansi justru sangat lambat menyerap dana yang secara spesifik dihimpun untuk tujuan tersebut?

Membedah Angka: Realisasi Dana IPO vs. Rencana Ekspansi

Untuk memahami strategi FORE, kita perlu melihat angka-angka kunci secara berdampingan.

  • Target Penggalangan Dana IPO: Hingga Rp379,8 miliar (kotor).
  • Realisasi Dana IPO: Rp353,4 miliar (kotor).
  • Biaya Emisi: Rp16,2 miliar.
  • Hasil Bersih IPO: Rp337,19 miliar.

Alokasi yang direncanakan saat IPO sangat jelas: 76% untuk ekspansi jaringan gerai, 18% untuk pengembangan gerai donat baru melalui anak usaha, dan 6% untuk modal kerja. Artinya, sekitar Rp256 miliar dari dana IPO seharusnya dialirkan untuk pembukaan gerai kopi baru.

Namun, realisasinya per akhir 2025 adalah sebagai berikut:

  • Ekspansi Outlet Baru: Rp100,8 miliar.
  • Setoran Modal ke Anak Usaha: Rp1 miliar.
  • Total Dana Terpakai: Rp101,8 miliar (sekitar 30,18% dari total dana bersih).
  • Sisa Dana IPO: Rp235,3 miliar, tersimpan di giro Bank Mandiri.

Kesenjangan ini terlalu signifikan untuk diabaikan. Jika perusahaan hanya menggunakan Rp100,8 miliar dari dana IPO untuk ekspansi, sementara puluhan gerai baru telah berhasil dibangun sepanjang 2025, pertanyaan logis berikutnya adalah: dari mana sisa uangnya berasal?

Arus Kas Operasional Sebagai Mesin Pertumbuhan Utama

Jawabannya kemungkinan besar terletak pada kekuatan yang seringkali tidak terlihat di permukaan: arus kas operasional (operational cash flow). Data kinerja keuangan Fore Coffee menunjukkan bahwa bisnis inti mereka sangat sehat dan menghasilkan kas yang melimpah.

Per September 2024, Fore Coffee mencatatkan pertumbuhan keuangan yang luar biasa:

Angka-angka ini bukanlah sekadar statistik. Mereka adalah bukti bahwa mesin operasional Fore Coffee berjalan dengan sangat efisien. Dengan EBITDA sebesar Rp135 miliar hanya dalam sembilan bulan, sangat masuk akal untuk menyimpulkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan kas internal yang lebih dari cukup untuk mendanai sebagian besar, jika tidak semua, kebutuhan ekspansi gerai regulernya.

Ini mengubah narasi secara fundamental. Dana IPO FORE ternyata bukanlah "bensin" utama untuk pertumbuhan sehari-hari. Sebaliknya, itu adalah dana cadangan strategis. Perusahaan tidak membutuhkan uang investor publik untuk membuka 70 gerai baru; mereka mampu melakukannya sendiri. IPO, dalam konteks ini, lebih terlihat seperti langkah untuk membangun sebuah "War Chest" atau dana perang.

Jika Bukan untuk Ekspansi, Lalu untuk Apa Dana IPO Rp235 Miliar?

Istilah "War Chest" dalam dunia korporat merujuk pada tumpukan kas yang sengaja disimpan untuk peluang atau ancaman strategis di masa depan. Dengan Rp235,3 miliar yang likuid dan siap pakai, apa yang mungkin direncanakan oleh Vico Lomar dan timnya? Berikut adalah tiga skenario paling masuk akal.

Skenario 1: Akuisisi Strategis

Pasar kopi ritel di Indonesia sangat kompetitif. Salah satu cara tercepat untuk tumbuh dan mengeliminasi persaingan adalah melalui akuisisi. Dana ini bisa digunakan untuk:

  • Mencaplok Jaringan Kopi Regional: Mengakuisisi merek kopi lokal yang lebih kecil namun memiliki basis pelanggan loyal di kota-kota tier 2 atau tier 3.
  • Mengakuisisi Perusahaan Teknologi: Membeli startup yang memiliki teknologi relevan, seperti platform manajemen rantai pasok (supply chain), aplikasi loyalitas pelanggan yang canggih, atau analitik data.
  • Diversifikasi Vertikal: Menginvestasikan dana pada bisnis pendukung, seperti perusahaan roasting kopi atau pemasok bahan baku premium untuk mengamankan kualitas dan menekan biaya jangka panjang.

Skenario 2: Bantalan Pertahanan (Defensive Moat)

Ekonomi global dan nasional penuh dengan ketidakpastian. Memiliki cadangan kas yang besar memberikan fleksibilitas dan ketahanan.

  • Menghadapi Perang Harga: Jika kompetitor utama memulai strategi banting harga, FORE memiliki amunisi untuk ikut serta atau bahkan memimpin tanpa mengorbankan kesehatan finansial jangka panjang.
  • Bertahan saat Krisis Ekonomi: Jika terjadi resesi yang menekan daya beli konsumen, dana ini bisa digunakan untuk menutupi biaya operasional dan mempertahankan karyawan kunci saat pendapatan menurun.
  • Peluang Oportunistik: Saat pasar sedang lesu, banyak aset (seperti lokasi sewa premium) menjadi lebih murah. FORE bisa memanfaatkan situasi ini untuk mengamankan lokasi-lokasi strategis dengan biaya rendah.

Skenario 3: Investasi Infrastruktur Skala Besar

Membuka gerai adalah satu hal, tetapi membangun infrastruktur pendukung yang kokoh adalah hal lain. Dana IPO bisa dialokasikan untuk proyek-proyek besar yang sulit dibiayai hanya dari kas operasional bulanan.

  • Pusat Roasting dan Distribusi Terpusat: Membangun fasilitas canggih untuk menyangrai biji kopi sendiri dalam skala masif, yang akan meningkatkan konsistensi kualitas dan efisiensi biaya secara signifikan.
  • Fore Coffee Academy: Mendirikan pusat pelatihan barista dan manajer gerai berstandar internasional untuk memastikan kualitas layanan di ratusan cabangnya.
  • Lompatan Teknologi: Mengembangkan platform aplikasi generasi berikutnya dengan fitur personalisasi berbasis AI, integrasi pembayaran yang lebih seamless, atau bahkan masuk ke ekosistem Web3 dan loyalitas berbasis NFT.

Perspektif Investor: Peluang atau Risiko?

Bagaimana seharusnya investor menafsirkan strategi ini?

The Bull Case (Peluang):
Ini adalah tanda dari manajemen yang sangat bijaksana dan tidak terburu-buru menghabiskan uang. Mereka fokus pada fundamental bisnis yang sehat dan hanya akan menggunakan dana IPO untuk peluang dengan tingkat pengembalian (return) yang sangat tinggi. Ini menunjukkan disiplin modal yang kuat dan mengurangi risiko investasi. Sisa dana yang besar memberikan "optionality"—kemampuan untuk menangkap peluang besar yang mungkin muncul tiba-tiba.

The Bear Case (Potensi Risiko):
Di sisi lain, ini bisa menimbulkan pertanyaan. Apakah target ekspansi yang dicanangkan saat IPO terlalu optimistis? Apakah manajemen kesulitan menemukan lokasi gerai baru yang memenuhi kriteria profitabilitas mereka? Investor perlu waspada terhadap kemungkinan adanya perubahan strategi yang belum dikomunikasikan secara transparan kepada publik. Namun, mengingat rekam jejak pertumbuhan yang solid, skenario ini tampaknya kurang mungkin terjadi.

Membaca Peta Jalan Fore Coffee di 2026 dan Seterusnya

Analisis mendalam terhadap penggunaan dana IPO FORE mengungkap sebuah cerita yang jauh lebih menarik daripada sekadar ekspansi gerai. Lambatnya penyerapan dana bukanlah tanda kelemahan atau keraguan, melainkan sebuah indikasi kekuatan finansial yang luar biasa dari operasional bisnis inti.

Fore Coffee telah menunjukkan bahwa mereka dapat tumbuh secara organik dan agresif menggunakan kas internal mereka sendiri. Oleh karena itu, dana IPO sebesar Rp235,3 miliar yang kini tersimpan aman bukanlah modal kerja yang menganggur, melainkan sebuah "War Chest" strategis. Dana ini memberikan manajemen keleluasaan untuk melakukan manuver besar di masa depan—baik itu akuisisi yang mengubah peta persaingan, investasi infrastruktur jangka panjang, atau sekadar bantalan untuk menghadapi badai ekonomi.

Bagi investor, kuncinya adalah menggeser fokus. Jangan hanya bertanya, "Kapan dana IPO ini akan habis?" Tanyakan, "Untuk peluang sebesar apa dana ini sedang disiapkan?" Jawabannya akan menentukan lintasan pertumbuhan Fore Coffee di tahun 2026 dan tahun-tahun mendatang.

Artikel yang serupa