IPO BEI 2025: Gagal Target Kuantitas, Sukses Strategi Kualitas?
Sekilas, laporan aktivitas Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2025 tampak mengecewakan. Target yang dicanangkan meleset jauh. Namun, apakah angka yang lebih rendah di papan pengumuman selalu berarti kabar buruk? Bagaimana jika saya katakan bahwa "kegagalan" ini sebenarnya adalah topeng dari sebuah strategi yang jauh lebih cerdas dan fundamental?
Tahun 2025 mungkin akan dikenang bukan sebagai tahun lesunya IPO, melainkan sebagai tahun di mana BEI secara sadar memutar kemudi, beralih dari sekadar mengejar kuantitas menjadi memprioritaskan kualitas. Data menunjukkan sebuah narasi yang kontradiktif namun menarik: saat jumlah emiten baru menurun, nilai dana yang dihimpun dan jumlah perusahaan raksasa yang melantai justru melampaui ekspektasi.
Ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah sinyal kuat dari sebuah "pembersihan" pasar yang disengaja, sebuah pivot strategis untuk membangun fondasi pasar modal yang lebih dewasa, kredibel, dan menarik bagi investor kelas kakap. Mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
Membedah Angka IPO 2025: Di Balik Target yang Meleset
Mari kita mulai dengan fakta yang tidak bisa dihindari. BEI awalnya mematok target ambisius untuk membawa 66 perusahaan melantai di bursa sepanjang 2025. Target ini kemudian direvisi menjadi 45 emiten seiring berjalannya waktu. Namun, hingga penutupan perdagangan akhir tahun, realisasinya berhenti di angka 26 IPO.
Secara persentase, realisasi ini hanya sekitar 57% dari target revisi, atau kurang dari 40% dari target awal. Penurunan ini tentu tidak lepas dari faktor eksternal. Kondisi pasar global yang masih diwarnai suku bunga tinggi, ketidakpastian geopolitik, dan selektivitas investor yang meningkat membuat banyak perusahaan memilih untuk menahan diri dan menunggu momen yang lebih tepat untuk melantai di bursa. Keputusan menunda IPO dalam kondisi seperti ini adalah sikap rasional, bukan cerminan kegagalan struktural pasar modal kita.
Namun, cerita tidak berhenti di situ. Di tengah penurunan jumlah IPO, total penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal (termasuk saham, obligasi, sukuk, dan lainnya) justru menunjukkan kinerja impresif. Per 29 Desember 2025, angkanya telah mencapai Rp 268,14 triliun dari 210 emisi. Angka ini tidak hanya melampaui target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp 220 triliun, tetapi juga meningkat dari pencapaian tahun 2024 sebesar Rp 259,24 triliun.
Khusus dari 26 IPO saham itu sendiri, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 18 triliun, atau Rp 18,11 triliun menurut data lain. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, bahkan menyebut total fundraising pasar modal hampir menembus Rp 300 triliun, tepatnya Rp 278 triliun, jauh di atas rata-rata historis yang biasanya hanya Rp 200 triliun per tahun.
Jadi, pertanyaannya adalah: bagaimana mungkin dengan jumlah IPO yang jauh lebih sedikit, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal secara keseluruhan justru memecahkan rekor? Jawabannya terletak pada pergeseran fokus yang fundamental.
Paradoks Kesuksesan: Ketika Kualitas Mengalahkan Kuantitas
Inilah inti dari cerita IPO 2025. Sementara target kuantitas gagal tercapai, target kualitas justru terlampaui dengan gemilang. Metrik kualitas yang paling jelas adalah keberhasilan BEI dalam menggaet Lighthouse Company atau perusahaan mercusuar.
Apa itu Lighthouse Company? Ini adalah istilah untuk perusahaan yang akan melantai dengan kapitalisasi pasar minimum senilai Rp 3 triliun dan porsi saham publik (free float) minimal 15%. Perusahaan-perusahaan ini adalah emiten kelas berat yang kehadirannya memiliki dampak signifikan terhadap pasar.
BEI sebenarnya hanya menargetkan ada lima perusahaan mercusuar yang melantai di tahun 2025. Namun, realisasinya mencapai enam perusahaan. Beberapa di antaranya adalah PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA).
Mengapa ini penting? IPO dengan kapitalisasi besar membawa beberapa keuntungan strategis:
- Likuiditas yang Lebih Baik: Saham mereka cenderung lebih likuid, memudahkan investor untuk membeli dan menjual tanpa mengganggu harga secara signifikan.
- Free Float Signifikan: Porsi saham publik yang besar memastikan ketersediaan saham di pasar, yang menjadi syarat utama bagi manajer investasi besar.
- Daya Tarik Investor Institusi: Perusahaan besar dengan fundamental kuat dan model bisnis yang jelas adalah magnet bagi investor institusi, baik domestik maupun asing, yang mencari investasi jangka panjang yang kredibel.
Dengan kata lain, satu IPO lighthouse bisa jadi memiliki dampak yang lebih besar bagi kesehatan dan kedalaman pasar dibandingkan lima atau sepuluh IPO skala kecil. Pasar modal kita di tahun 2025 jelas lebih condong pada prinsip quality over quantity.
"Pembersihan" Pasar: Lonjakan Delisting dan Implikasinya
Strategi kualitas tidak hanya tentang menambahkan emiten bagus, tetapi juga membersihkan emiten yang tidak lagi memenuhi standar. Di sinilah data delisting (penghapusan pencatatan saham) menjadi sangat relevan.
Pada tahun 2025, BEI melakukan delisting terhadap 12 perusahaan. Angka ini melonjak secara dramatis jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang hanya mencatatkan satu perusahaan delisting. Beberapa nama yang dihapus dari papan perdagangan antara lain PT Smartfren Telecom Tbk, PT Hanson International Tbk, dan PT Multistrada Arah Sarana Tbk.
Lebih jauh lagi, BEI telah merilis daftar yang berisi 70 perusahaan yang berpotensi di-delisting. Ini adalah sinyal yang sangat kuat bahwa otoritas bursa tidak lagi menoleransi "saham zombie"—saham yang tidak likuid, tidak memiliki kinerja baik, dan hanya memenuhi papan perdagangan tanpa memberikan nilai tambah.
Tindakan tegas ini, meskipun terlihat keras, sangat penting untuk membangun kepercayaan (trust). Bagi investor, terutama investor institusi asing, salah satu keraguan terbesar untuk masuk ke pasar berkembang adalah banyaknya saham "gorengan" atau emiten tidak likuid yang rentan dimanipulasi. Dengan melakukan pembersihan ini, BEI secara aktif meningkatkan integritas dan reputasi pasar modal Indonesia.
Dampak Strategi Baru BEI bagi Ekosistem Pasar Modal
Pergeseran fokus dari kuantitas ke kualitas ini menciptakan riak yang terasa di seluruh ekosistem.
Bagi investor, ini adalah kabar baik. Pasar yang lebih bersih dengan emiten-emiten berkualitas tinggi cenderung lebih stabil dan dapat diprediksi. Ini mengurangi risiko terjebak dalam saham yang tidak likuid dan meningkatkan potensi keuntungan jangka panjang yang sehat. Komposisi indeks saham gabungan (IHSG) pun berpotensi menjadi lebih solid.
Bagi calon emiten besar, BEI seolah menggelar karpet merah. Keberhasilan enam lighthouse company menjadi bukti bahwa pasar sangat siap menyerap emiten dengan fundamental kuat dan valuasi yang layak.
Namun, bagaimana dengan perusahaan skala kecil dan menengah (SME)? Di sinilah muncul pertanyaan lanjutan yang krusial. Apakah pengetatan seleksi dan fokus pada emiten raksasa ini akan mempersulit jalan bagi SME untuk mendapatkan pendanaan melalui IPO? Apakah Papan Akselerasi, yang dirancang khusus untuk mereka, akan menjadi kurang diminati?
Sangat mungkin bahwa SME akan merasa proses IPO menjadi lebih menantang. Hal ini bisa mendorong mereka untuk mencari alternatif pendanaan lain yang mungkin lebih sesuai dengan skala dan kondisi mereka, seperti private credit, venture capital, atau skema pendanaan swasta lainnya. Ini bukanlah hal yang buruk, melainkan sebuah diversifikasi sumber pendanaan yang sehat bagi perekonomian.
Proyeksi 2026: Apakah Tren Kualitas Akan Berlanjut?
Semua indikasi menunjukkan bahwa tren ini akan terus berlanjut. Untuk tahun 2026, BEI telah menetapkan target 50 perusahaan dapat melakukan IPO. Meskipun target kuantitas dinaikkan, fokus pada kualitas tampaknya tidak akan kendor.
Hingga akhir Desember 2025, BEI melaporkan sudah ada sembilan perusahaan yang berada dalam pipeline (antrean) IPO untuk tahun depan. Dari sembilan perusahaan tersebut, enam di antaranya masuk kategori skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar.
Yang lebih menarik, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Nyoman Gede Yetna, mengungkapkan bahwa dua dari perusahaan dalam antrean tersebut adalah calon lighthouse company yang berasal dari sektor infrastruktur dan pertambangan. Keduanya direncanakan akan melangsungkan IPO pada kuartal pertama 2026. Ini menegaskan bahwa BEI terus aktif mendekati perusahaan-perusahaan kakap untuk memperkuat pasar.
Pasar Modal Indonesia yang Semakin Dewasa
Melihat data secara holistik, sulit untuk menyebut kinerja IPO BEI 2025 sebagai sebuah kegagalan. Sebaliknya, ini adalah cerminan dari pasar yang semakin dewasa dan disiplin. Otoritas bursa tidak lagi silau dengan angka kuantitas, melainkan fokus pada substansi yang akan membangun pasar yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Pergeseran dari mengejar jumlah menjadi mengkurasi kualitas, ditambah dengan langkah tegas untuk membersihkan pasar dari emiten bermasalah, adalah resep yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan investor dan menarik modal yang lebih besar dan lebih stabil. Tahun 2025 adalah tahun di mana pasar modal kita menunjukkan bahwa ia tidak hanya ingin menjadi besar, tetapi juga ingin menjadi lebih baik.
Strategi "kualitas di atas kuantitas" ini tentu memiliki implikasi bagi setiap investor. Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda merasa lebih percaya diri dengan arah yang diambil BEI?
Artikel yang serupa
Popular Post
Sosial