RICY Bangkit? Analisis Laporan Keuangan 2024 & Pasca-PKPU

RETORIS.ID staff

Martini Ramadhani

04-03-2026

RICY Bangkit? Analisis Laporan Keuangan 2024 & Pasca-PKPU

Ilustrasi saham ricy dan produk gtman

Anda mungkin mengenal celana dalam merek GT Man, sebuah nama yang telah melekat di benak masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana kondisi perusahaan di baliknya? PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY), sang produsen, kini tengah berada di sebuah persimpangan krusial. Di satu sisi, laporan keuangan 2024 menunjukkan tekanan finansial yang hebat. Di sisi lain, sebuah babak baru telah dimulai setelah perusahaan berhasil merampungkan proses restrukturisasi utang yang pelik.

Jadi, mengapa Anda harus peduli? Karena kisah RICY adalah cerminan nyata dari pertarungan sebuah perusahaan legendaris di tengah badai ekonomi. Ini bukan sekadar cerita tentang angka-angka dalam laporan keuangan, melainkan tentang daya tahan, strategi, dan secercah harapan di ujung terowongan. Apakah ini awal dari kebangkitan atau hanya jeda sebelum tantangan berikutnya? Mari kita bedah bersama.

Siapa di Balik Merek GT Man? Mengenal PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY)

Sebelum menyelam lebih dalam ke angka-angka, penting untuk memahami siapa sebenarnya PT Ricky Putra Globalindo Tbk. Perusahaan ini bukanlah pemain baru di industri garmen Indonesia. Jejak operasionalnya sudah dimulai sejak tahun 1968, jauh sebelum pendirian resminya pada tahun 1987. RICY resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 1998 dengan kode saham RICY.

Skala operasinya pun tidak main-main. Hingga tahun 2024, perusahaan ini menaungi 2.706 karyawan yang tersebar di 3 unit pabrik. Portofolionya tidak hanya GT Man, tetapi mencakup total 10 merek. Data ini menunjukkan bahwa RICY adalah entitas bisnis yang signifikan dengan sejarah panjang dan aset operasional yang mapan. Namun, seperti yang akan kita lihat, fondasi yang kuat sekalipun bisa goyah diterpa badai finansial.

Sosok di balik kemudi RICY adalah Paulus Gunawan, Presiden Direktur yang menjabat sejak 2010 dan baru diperpanjang mandatnya hingga 2029. Alumni Commerce Universitas Doshisha, Jepang ini bukan orang luar — ia memiliki ikatan kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali, menjadikan RICY sejatinya sebuah family-controlled company.

Membedah Laporan Keuangan RICY 2024: Angka di Balik Cerita

Laporan keuangan adalah jendela untuk melihat kesehatan sebuah perusahaan. Dalam kasus RICY, jendela ini menampilkan pemandangan yang kompleks dan penuh tantangan. Mari kita bedah satu per satu.

Penjualan Naik, Tapi Laba Tergerus. Kenapa?

Sekilas, ada kabar baik. Penjualan neto RICY pada tahun 2024 berhasil tumbuh tipis sekitar 2% menjadi Rp885,5 miliar dari Rp868,4 miliar pada tahun 2023. Mayoritas penjualan ini berasal dari pasar domestik, dengan kontribusi dari Jawa dan Jakarta sebesar Rp593 miliar. Pasar ekspor ke Asia juga memberikan sumbangan signifikan sebesar Rp219 miliar.

Namun, kenaikan penjualan ini terasa hampa. Mengapa? Karena biaya untuk menghasilkan penjualan tersebut membengkak lebih cepat. Harga Pokok Penjualan (HPP) atau Cost of Goods Sold (COGS) naik 4% dari Rp681 miliar menjadi Rp708 miliar. Akibatnya, Laba Bruto (keuntungan sebelum dipotong biaya operasional) justru turun 5% menjadi Rp177,6 miliar.

Penurunan ini secara langsung menggerus margin keuntungan. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) RICY menyusut dari 21,55% pada 2023 menjadi 20,06% pada 2024. Ini adalah sinyal bahwa perusahaan kesulitan menjaga profitabilitas di tengah potensi kenaikan biaya bahan baku atau biaya produksi.

Beban Operasional dan Keuangan Menekan Laba Bersih

Masalah tidak berhenti di laba kotor. Lini bawah (bottom-line) RICY semakin tertekan oleh berbagai beban. Sepanjang 2024, perusahaan harus menanggung beban penjualan sebesar Rp106 miliar, beban umum dan administrasi Rp55 miliar, dan yang paling signifikan, beban keuangan sebesar Rp78 miliar.

Beban keuangan yang tinggi sering kali mengindikasikan tingkat utang yang besar, yang akan kita bahas lebih lanjut. Kombinasi dari margin yang menipis dan beban yang membengkak ini akhirnya mendorong perusahaan ke jurang kerugian yang lebih dalam. Rugi bersih tahun berjalan membengkak menjadi Rp116,4 miliar, jauh lebih buruk dibandingkan rugi Rp75,4 miliar pada tahun 2023.

Untuk melihat kinerja operasional murni, kita bisa melihat EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization). Angka ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari operasinya sebelum memperhitungkan struktur modal dan kebijakan akuntansi. Di sini, kondisinya sangat mengkhawatirkan. EBITDA RICY anjlok dari positif Rp41,1 miliar pada 2023 menjadi negatif Rp16,05 miliar pada 2024. Ini artinya, secara operasional inti pun, perusahaan sudah tidak menghasilkan keuntungan.

Neraca Keuangan RICY: Tumpukan Utang dan Modal Negatif

Jika laporan laba rugi adalah video kinerja perusahaan selama setahun, maka neraca keuangan adalah foto kondisi finansialnya pada satu titik waktu. Foto untuk RICY per akhir 2024 menunjukkan postur yang rapuh.

Likuiditas di Bawah Tekanan

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Di sini, RICY menghadapi tantangan serius. Posisi kas dan setara kas perusahaan hanya tersisa Rp19 miliar. Sementara itu, total liabilitas jangka pendek (utang yang harus dibayar dalam setahun) mencapai Rp1,49 triliun.

Rasio Lancar (Current Ratio), yang membandingkan aset lancar dengan liabilitas jangka pendek, berada di angka 0,87 kali. Angka di bawah 1 kali secara umum dianggap sebagai lampu kuning, yang mengindikasikan bahwa aset lancar perusahaan tidak cukup untuk menutupi seluruh kewajiban jangka pendeknya.

Misteri Debt to Equity Ratio (DER) Negatif

Salah satu rasio yang paling sering diperhatikan investor adalah Debt to Equity Ratio (DER), yang mengukur seberapa besar perusahaan didanai oleh utang dibandingkan modal sendiri. Angka DER RICY untuk 2024 tercatat sangat anomali: negatif 18,08 kali.

Apa artinya DER negatif? Ini bukan pertanda baik. DER menjadi negatif ketika sebuah perusahaan memiliki ekuitas (modal) negatif. Pada akhir 2024, RICY mencatatkan defisiensi modal sebesar Rp86,6 miliar. Ini terjadi karena total liabilitas (utang) perusahaan yang mencapai Rp1,56 triliun telah melampaui total asetnya yang senilai Rp1,48 triliun. Secara sederhana, nilai utang perusahaan lebih besar dari seluruh nilai aset yang dimilikinya. Ini adalah tanda tekanan finansial yang ekstrem.

Titik Balik? Homologasi PKPU RICY dan Harapan ke Depan

Di tengah angka-angka merah tersebut, muncul secercah harapan dari jalur hukum. RICY telah menjalani proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), sebuah mekanisme hukum yang memungkinkan perusahaan bernegosiasi dengan para kreditur untuk merestrukturisasi utangnya dan menghindari kebangkrutan.

Kabar baiknya, proses PKPU RICY ini mencapai puncaknya pada 15 Desember 2025, ketika Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengesahkan Perjanjian Perdamaian (Homologasi) antara RICY dan para krediturnya. Pengesahan ini merupakan hasil dari pemungutan suara yang dilakukan pada 10 Desember 2025, di mana proposal perdamaian dari RICY disetujui.

Apa implikasinya? Ini sangat signifikan. Dengan putusan homologasi yang berkekuatan hukum tetap, status PKPU perusahaan akan berakhir. RICY dapat kembali mengelola kegiatan usahanya secara mandiri dan normal, dengan kewajiban utang yang telah dijadwal ulang sesuai kesepakatan. Ini memberikan perusahaan ruang bernapas yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja operasional dan keuangannya tanpa dibayangi ancaman pailit.

Prospek Saham RICY di Tengah Tantangan Industri Garmen

Kondisi fundamental perusahaan tentu saja tercermin pada kinerja saham RICY. Sepanjang tahun 2024, harga sahamnya menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Pada Triwulan I, harga penutupannya masih di level 93, namun anjlok ke level 50 pada penutupan Triwulan II.

Ke depan, prospek saham RICY akan sangat bergantung pada dua hal: eksekusi rencana perdamaian pasca-PKPU dan kondisi industri garmen secara umum. Perusahaan harus membuktikan bahwa mereka mampu meningkatkan efisiensi, menekan biaya, dan kembali mencetak laba.

Tantangan eksternal juga tidak bisa diabaikan. Industri padat karya seperti garmen sangat sensitif terhadap kenaikan biaya operasional, termasuk biaya logistik dan energi. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Dexlite menjadi Rp14.200 per liter per 1 Maret 2026 dapat secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan biaya distribusi dan produksi. Mampukah RICY menavigasi tantangan internal dan eksternal ini secara bersamaan?

Peluang atau Jebakan bagi Investor?

PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY) adalah sebuah studi kasus yang menarik. Di satu sisi, kita melihat sebuah perusahaan dengan merek legendaris seperti GT Man yang sedang terperosok dalam kesulitan finansial, dibuktikan oleh kerugian yang membengkak, EBITDA negatif, dan modal yang defisit.

Di sisi lain, keberhasilan homologasi PKPU RICY adalah sebuah game-changer. Ini adalah titik balik yang memberikan perusahaan kesempatan kedua. Jalan menuju pemulihan masih panjang dan terjal. Manajemen harus mengeksekusi rencana restrukturisasi dengan disiplin tinggi sambil terus berinovasi di pasar yang kompetitif.

Bagi investor, saham RICY saat ini ibarat pedang bermata dua. Ada potensi turnaround yang besar jika perusahaan berhasil membalikkan keadaan, namun risikonya juga sangat tinggi.

Langkah Anda Selanjutnya:
Keputusan investasi ada di tangan Anda. Analisis ini adalah titik awal. Lakukan riset lebih mendalam, pantau rilis laporan keuangan kuartalan RICY berikutnya untuk melihat apakah ada perbaikan kinerja pasca-PKPU, dan selalu pertimbangkan profil risiko Anda sebelum mengambil keputusan. Berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional adalah langkah yang bijak.

Artikel yang serupa