dhanipro

RETORIS.ID staff

dhanipro

26-09-2026

151 Juta Interaksi: Angka Perang Dagang AI Tanpa Auditor

Perang Dagang AI

Dalam hitungan hari, satu frasa teknis berubah menjadi amunisi geopolitik: 151 juta interaksi Anthropic Alibaba. Angka itu berasal dari laporan intelijen ancaman (threat intelligence report) Anthropic, yang menuding lebih dari 151 juta interaksi palsu dengan model Claude diarahkan untuk membantu pengembangan Qwen, model kecerdasan buatan milik Alibaba. Tudingan serupa yang dilontarkan pemerintah Amerika Serikat dua hari sebelumnya telah ditolak Beijing, dan perusahaan-perusahaan yang disebut — Alibaba, DeepSeek, Moonshot AI, hingga Xiaomi — belum terbukti secara hukum melakukan pencurian teknologi. Namun ada satu fakta yang jarang ikut dikutip ketika angka 151 juta beredar dari judul ke judul: hingga hari ini, tidak ada satu pun pihak ketiga — akademisi keamanan independen, auditor, maupun regulator — yang memvalidasinya.

Angka sebesar itu menuntut beban bukti yang sebesar itu pula. Klaim tanpa validasi pihak ketiga semestinya berdiri dengan label yang jelas: ini adalah perhitungan satu perusahaan, diambil dari telemetri internalnya sendiri, dan diumumkan oleh pihak yang punya kepentingan langsung pada kesimpulannya. Kita perlu menanyakannya bukan untuk membela Alibaba, melainkan untuk membela standar dasar jurnalistik dan kebijakan publik. Sebelum sebuah angka dipakai membingkai narasi "China mencuri model AS", angka itu harus bisa diperiksa oleh pihak yang tidak berkepentingan.

Angka yang Bergeser, Metode yang Tertutup

Anthropic sendiri pernah mengumumkan angka-angka lain. Pada Februari 2026, perusahaan itu menyatakan DeepSeek, Moonshot, dan MiniMax menghasilkan lebih dari 16 juta pertukaran dengan Claude melalui sekitar 24.000 akun palsu. Pada Juni 2026, Reuters melaporkan tudingan Anthropic terhadap Alibaba dengan angka yang berbeda lagi: 28,8 juta interaksi lewat 25.000 akun palsu, yang diduga terjadi antara 22 April hingga 5 Juni 2026. Lalu, dalam laporan ancaman terbarunya, angka itu melompat menjadi lebih dari 151 juta interaksi yang diatribusikan ke Alibaba.

Mungkin angka-angka itu kumulatif. Mungkin subset. Mungkin koreksi. Publik tidak punya cara mengetahuinya, karena metodologi Anthropic tidak terbuka: tidak ada penjelasan publik tentang apa yang dihitung sebagai satu "interaksi" — satu pesan, satu sesi, atau satu panggilan API — dan tidak ada penjelasan bagaimana aktivitas lewat akun palsu bisa diatribusikan secara meyakinkan ke satu perusahaan tertentu. Padahal akun palsu, menurut definisinya sendiri, dirancang untuk menyembunyikan identitas pemiliknya.

Seluruh atribusi itu bertumpu pada log aktivitas yang tercatat di dalam server Anthropic — serupa persoalan pemrosesan data AI di sisi server pada umumnya, data semacam ini tidak bisa diakses publik, peneliti independen, ataupun regulator. Ini atribusi interaksi AI tanpa audit: hanya satu pihak yang menyimpan datanya, hanya satu pihak yang menentukan cara membacanya, dan hanya satu pihak yang boleh mengumumkan hasilnya.

Perlu diakui, distillation sendiri bukan kata kotor. Teknik ini — melatih model yang lebih lemah menggunakan keluaran model yang lebih kuat — lazim dipakai di industri AI untuk menghemat biaya dan waktu pengembangan. Tuduhan distillation Alibaba pada Claude yang dilontarkan Anthropic merujuk pada praktik lewat akun palsu dan pelanggaran pembatasan layanan (Terms of Service) dalam skala masif. Pemerintah China menolak tudingan semacam itu dan menyebut distillation sebagai teknik netral yang umum digunakan. Di antara dua posisi itulah angka 151 juta berdiri — tanpa wasit.

Tudingan yang Datang Tepat pada Waktunya

Rekaman waktunya layak dicermati. Temuan Anthropic muncul hanya dua hari setelah pemerintah AS menuduh enam perusahaan AI China — termasuk Alibaba, DeepSeek, dan Moonshot — menggunakan distillation untuk menyalin kemampuan model buatan Anthropic, OpenAI, Google, dan SpaceX. Tudingan itu mengemuka di tengah perang dagang AI AS-China yang sedang memanas. CEO Anthropic Dario Amodei tengah gencar meminta industri memperlambat pengembangan AI, dalam esai yang dibagikan pada 12 September, ia memperingatkan agen AI "bisa saja mampu mengambil alih seluruh internet" dalam enam hingga dua belas bulan dan menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar dolar. Di pihak berseberangan, Presiden Donald Trump menyebut kekhawatiran semacam itu "konspirasi sakit" dan menilai perlambatan justru menguntungkan China.

Di Kongres AS, gagasan regulasi bergerak lambat: Pemimpin Mayoritas Senat John Thune berbicara dengan Senator Amy Klobuchar soal "jalan ke depan", Senator John Kennedy mengusulkan kewajiban kill switch — kemampuan mematikan sistem AI sewaktu-waktu — sementara Ketua Kongres Mike Johnson menolak urgensi legislasi. Surat kabar China, Global Times, mengecap seruan Amodei sebagai "buku pedoman Perang Dingin" untuk membatasi perkembangan teknologi China. Dan ketika ketegangan itu meruncing, kedua negara, menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, sepakat membentuk mekanisme dialog AI.

Di arena inilah angka 151 juta masuk dan bekerja. Apakah Anthropic sengaja menjadikannya alat lobi regulasi Anthropic? Tidak ada bahan yang membuktikan motif itu, dan tulisan ini tidak mengklaimnya. Yang terukur adalah fungsinya: sebuah angka tentang pelanggaran skala masif oleh perusahaan China memperkuat argumen siapa pun yang mendorong pembatasan API AI China — entah itu pejabat di Washington, senator yang mencari panggung, atau perusahaan yang secara komersial menegakkan akses API lewat Terms of Service-nya. Klaim keamanan yang bertumpu pada data sepihak dengan mudah melahirkan regulasi AI yang salah sasaran: kebijakan besar yang dibangun di atas fondasi yang tidak bisa diuji.

Ironisnya, kritik serupa juga dipakai melawan industri itu sendiri. CEO Nvidia Jensen Huang menilai seruan regulasi keselamatan AI justru bertujuan menghindarkan perusahaan dari hukum yang sudah ada. Investor Michael Burry menyebut peringatan-peringatan dari Anthropic dan OpenAI sebagai "gembar-gembor dan bualan". Semua pihak menuding angka pihak lain membawa kepentingan — dan barangkali semua pihak sah untuk curiga.

Industri yang Fasih Berbicara Angka, Pelit Membuka Bukti

Perhatikan polanya. OpenAI mengklaim GPT-6 Sol menghasilkan sekitar separuh kesalahan faktual pendahulunya dan mencetak skor 68,8 persen pada benchmark DeepSWE 1.1 — angka yang, harus diakui detikINET dengan jujur, "berasal dari evaluasi internal OpenAI dan belum tentu menggambarkan performa pada semua penggunaan di dunia nyata". Evan Hubinger, pemimpin keselarasan AI di Anthropic, memperkirakan probabilitas AI membunuh seluruh umat manusia lebih dari 10 persen dalam dekade berikutnya. Jensen Huang, dengan sama meyakinkannya, menyebut peluang kiamat AI nol persen setidaknya sampai 2030. Semua angka itu disampaikan dengan presisi yang mengesankan — dan tak satu pun melewati auditor. Inilah persoalan beban bukti klaim keamanan AI: industri terbiasa berhitung sendiri, mengumumkan sendiri, dan jarang sekali diperiksa.

Bandingkan dengan standar yang dipenuhi Hacktron AI. Ketika tiga penelitinya mengklaim menembus sistem OpenAI dengan bantuan Claude Opus 5 — "we're just three guys with Claude and Codex subscriptions", kata CTO Mohan Pedhapati — klaim itu disertai artefak yang bisa diperiksa: sebuah pull request (pengajuan perubahan kode) bernomor 1186742 di monorepo internal OpenAI, perbaikan yang dikonfirmasi sekitar 14 jam setelah laporan, dan bug bounty — hadiah resmi bagi pelapor celah keamanan — sebesar US$6.500 atau sekitar Rp115,7 juta yang benar-benar dibayarkan. Narasi pemasarannya bisa saja dibesar-besarkan seperti klaim industri lainnya, tetapi angka-angkanya punya jejak yang bisa diverifikasi pihak ketiga. Itulah bedanya klaim yang memikul beban bukti di pundaknya dengan klaim yang menyerahkan bebannya kepada pembaca.

Sebagai catatan keberimbangan: Anthropic memang konsisten menerbitkan laporan intelijen ancaman — mulai dari penyalahgunaan Claude oleh kelompok kriminal dan pihak berafiliasi negara, sampai pengumuman upaya pengembangan senjata biologis yang berhasil diblokir perusahaan. Praktik itu bukan propaganda dengan sendirinya. Pertanyaannya lebih sempit dan lebih teknis: mengapa temuan yang paling menentukan perdebatan kebijakan justru yang paling tidak bisa diperiksa dari luar?

Ketika Media Menjadi Corong

Angka 151 juta berjalan jauh dari laporan ke judul berita, dan kualifikasinya rontok di perjalanan. Patut dicatat, sebagian media masih menjalankan kewajiban minimal: pemberitaan yang menjadi rujukan utama tulisan ini, misalnya, secara eksplisit menulis bahwa tudingan itu "belum diverifikasi secara independen" dan para pihak yang disebut "belum terbukti secara hukum melakukan pencurian teknologi". Tapi struktur berita tetap bekerja sebaliknya: yang menjadi judul adalah angkanya, bukan keraguan tentang angkanya.

Di titik inilah media mengambil posisi, sadar atau tidak. Mengutip angka dengan atribusi — "menurut Anthropic" — dan kualifikasi yang utuh adalah satu hal; menjadikannya alur logika untuk membingkai narasi "China mencuri model AS" adalah hal lain. Kewajiban memeriksa angka sebelum mengutipnya adalah tanggung jawab yang tidak bisa didelegasikan ke AI — dan juga tidak bisa didelegasikan pada laporan korporasi mana pun.

Dan pertanyaan substantifnya sebenarnya lebih dalam daripada benar-salah sebuah angka. Sebagaimana ditulis Reuters, pertarungan yang sesungguhnya adalah siapa yang boleh belajar dari keluaran model lain, dan kapan distillation berubah dari teknik biasa menjadi penyalahgunaan. Pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab secara adil selama satu-satunya data yang tersedia disimpan, dihitung, dan diumumkan oleh salah satu pihak yang bersengketa.

Yang Masih Harus Dijawab

Catatan ini bukan vonis bahwa angka 151 juta itu keliru. Ia bisa saja akurat, dan aktivitas yang digambarkannya bisa saja nyata. Tetapi kebenaran yang tidak bisa diverifikasi secara fungsional setara dengan klaim. Untuk itu, tiga hal masih menunggu jawaban.

Pertama, Anthropic perlu membuka metodologi penghitungannya: definisi "interaksi", cara mengelompokkan sesi, dan teknik atribusi ke Alibaba. Hingga tulisan ini disusun, belum ada dokumen publik yang menjelaskannya — termasuk dalam laporan-laporan yang dikutip media. Kedua, belum ada penilaian dari akademisi atau pakar keamanan independen atas kredibilitas angka itu; temuan dengan beban geopolitik sebesar ini semestinya direplikasi oleh pihak yang tidak menerima gaji dari Anthropic maupun Alibaba. Ketiga, konteks aktivitas lobi perusahaan pada periode yang sama tetap perlu didokumentasikan, agar publik bisa membedakan temuan teknis dari amunisi kebijakan.

Perang dagang AI AS-China akan terus memproduksi angka-angka besar, karena angka besar bergerak lebih cepat daripada audit. Tugas jurnalisme bukan memilih angka mana yang terasa paling benar, melainkan terus menanyakan dua hal sederhana: siapa yang menghitung, dan siapa yang boleh memeriksa. Selama jawaban atas keduanya adalah satu nama yang sama, frasa "151 juta interaksi Anthropic Alibaba" tetap sebuah klaim — dan sejarah penuh dengan klaim yang lebih berguna bagi penuturnya daripada bagi publiknya.

Artikel yang serupa

Bug Bounty OpenAI $6.500: Insentif Disclosure yang Gagal?

Bug Bounty OpenAI $6.500: Insentif Disclosure yang Gagal?

Laba US$91 Miliar Tak Jadi Barel Baru

Laba US$91 Miliar Tak Jadi Barel Baru

Panduan Refund Tiket Pesawat: Erupsi Gunung Anak Krakatau

Panduan Refund Tiket Pesawat: Erupsi Gunung Anak Krakatau