Obligasi Oracle: Risiko Kredit & Gugatan di Balik Ambisi AI
Pernahkah Anda bertanya-tanya seberapa besar harga sebuah ambisi teknologi? Bagi Oracle Corp., raksasa perangkat lunak yang diketuai miliarder Larry Ellison, harganya mungkin lebih dari $100 miliar dalam bentuk utang. Baru-baru ini, pasar keuangan mengirimkan sinyal peringatan yang sangat jelas: indikator risiko kredit atas utang Oracle melonjak ke level tertinggi sejak puncak krisis keuangan pada Maret 2009.
Mengapa investor tiba-tiba begitu cemas? Jawabannya terletak pada persimpangan antara ambisi kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa besar, penjualan utang miliaran dolar, dan gugatan hukum yang menuduh perusahaan tidak transparan. Kisah obligasi Oracle bukan lagi sekadar cerita tentang keuangan korporat; ini telah menjadi barometer untuk mengukur potensi gelembung (bubble) di seluruh industri AI. Mari kita bedah lebih dalam.
Penjualan Obligasi Oracle Senilai $18 Miliar: Bahan Bakar Ambisi AI
Pada September lalu, Oracle membuat langkah besar dengan menjual obligasi korporasi senilai $18 miliar kepada para investor. Penjualan utang raksasa ini bukan tanpa alasan. Oracle sedang bertaruh besar pada masa depan AI. Dari Reuters, Perusahaan ini mengumumkan kontrak fantastis senilai $300 miliar selama lima tahun untuk memasok daya komputasi kepada OpenAI, salah satu pelopor di industri AI.
Ambisi AI Oracle sangat erat kaitannya dengan OpenAI. Perusahaan database ini bahkan mengandalkan potensi pendapatan ratusan miliar dolar dari kesepakatan tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Untuk memenuhi permintaan infrastruktur sebesar itu, Oracle membutuhkan modal yang sangat besar guna membangun pusat data canggih yang dilengkapi dengan klaster GPU (Graphics Processing Unit) raksasa.
Penjualan obligasi Oracle senilai $18 miliar tersebut menjadi cara utama untuk mendanai ekspansi masif ini. Investor pun berbondong-bondong membeli surat utang tersebut, tergiur oleh janji pertumbuhan eksponensial dari revolusi AI. Namun, euforia itu tidak berlangsung lama.
Gugatan Hukum Mengejutkan dari Para Pemegang Obligasi
Hanya tujuh minggu setelah investor membeli surat utang tersebut, sebuah kejutan datang. Oracle kembali ke pasar modal untuk mendapatkan pinjaman tambahan sebesar $38 miliar guna mendanai dua pusat data baru yang juga ditujukan untuk mendukung perjanjian dengan OpenAI.
Langkah ini memicu kemarahan para pemegang obligasi awal. Sekelompok investor yang dipimpin oleh Ohio Carpenters' Pension Plan mengajukan gugatan class action di pengadilan New York. Mereka menuduh Oracle dan para penjamin emisinya telah membuat pernyataan yang salah dan menyesatkan.
Menurut gugatan tersebut, dokumen penawaran obligasi awal hanya menyebutkan bahwa Oracle "mungkin" perlu meminjam lebih banyak. Para investor berargumen bahwa pada kenyataannya, perusahaan sudah memiliki rencana pasti untuk melakukannya. Mereka merasa tertipu karena tidak diberi tahu tentang skala penuh dari kebutuhan utang Oracle. Akibatnya, tuntutan hukum Oracle ini menuntut ganti rugi yang jumlahnya tidak ditentukan.
Reaksi Pasar: Risiko Kredit Melonjak dan Saham Oracle Turun
Pasar obligasi bereaksi dengan cepat dan brutal. Nilai dari obligasi senilai $18 miliar yang dibeli investor sebelumnya langsung turun. Imbal hasil (yield) dan selisihnya (spread) mulai diperdagangkan setara dengan surat utang dari perusahaan berperingkat lebih rendah, mencerminkan persepsi risiko kredit yang jauh lebih tinggi.
Kekhawatiran ini tercermin pada metrik keuangan penting yang disebut Credit Default Swaps (CDS). Sederhananya, CDS adalah kontrak asuransi yang dibeli investor untuk melindungi diri dari risiko gagal bayar sebuah perusahaan. Semakin tinggi biaya CDS, semakin besar pula persepsi risiko di pasar.
Biaya perlindungan utang Oracle terhadap default meroket hingga mencapai 1,28 poin persentase per tahun, level tertinggi sejak Maret 2009. Angka ini telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dari level terendahnya di 0,36 poin persentase pada bulan Juni. Volume perdagangan CDS Oracle bahkan melonjak dari sekitar $200 juta menjadi hampir $5 miliar dalam periode tujuh minggu.
Dampak negatif tidak berhenti di pasar utang. Di pasar saham, berita mengenai gugatan hukum ini menyebabkan saham Oracle turun sebesar 5% dalam perdagangan harian di Bursa Saham New York. Ini adalah sinyal jelas bahwa investor di semua kelas aset mulai mempertanyakan strategi pendanaan Oracle.
Seberapa Besar Tumpukan Utang Oracle Sebenarnya?
Untuk memahami mengapa pasar begitu sensitif, kita perlu melihat skala utang Oracle. Per akhir Agustus, total utang perusahaan, termasuk sewa, mencapai angka $105 miliar. Hingga akhir November, angka ini membengkak menjadi sekitar $108 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar $95 miliar berbentuk obligasi yang termasuk dalam indeks Bloomberg US Corporate. Hal ini menjadikan Oracle sebagai penerbit obligasi terbesar dalam indeks tersebut di luar industri perbankan. Fakta ini, ditambah dengan peringkat kredit Oracle yang lebih lemah dibandingkan raksasa cloud-computing lain, menjadikan CDS-nya sebagai alat lindung nilai utama bagi investor yang khawatir akan krisis AI.
Morgan Stanley bahkan telah memperingatkan bahwa tumpukan utang Oracle yang terus bertambah berisiko mendorong swap default kreditnya mendekati 2 poin persentase, level yang hanya sedikit di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada krisis 2008.
Apakah Ini Sinyal Gelembung AI Seperti Era Dot-Com?
Kisah Oracle ini memicu pertanyaan yang lebih besar: apakah kita sedang menyaksikan pembentukan gelembung AI? Hans Mikkelsen dari TD Securities memperingatkan bahwa booming ini sangat mirip dengan periode mania pasar sebelumnya yang mendorong harga aset ke level ekstrem sebelum akhirnya runtuh.
“Kami pernah mengalami siklus semacam ini sebelumnya,” katanya. “Saya tidak bisa membuktikan bahwa ini sama, tapi sepertinya apa yang kita lihat, misalnya, selama gelembung dot-com.”
Kekhawatiran utama investor adalah adanya kesenjangan besar antara investasi miliaran dolar yang digelontorkan ke dalam AI dan kapan keuntungan nyata—seperti peningkatan produktivitas dan laba korporasi—dapat direalisasikan. Pertaruhan Oracle adalah cerminan dari tren ini: belanja modal besar-besaran hari ini untuk keuntungan yang diharapkan di masa depan.
Di Tengah Turbulensi, Oracle Tetap Ekspansi di Asia Tenggara
Meskipun menghadapi tantangan finansial dan hukum di pasar domestik, Oracle tidak menunjukkan tanda-tanda melambat dalam ekspansi globalnya. Perusahaan ini justru menegaskan ambisinya di Asia Tenggara dengan menggandeng Indonesia dalam kemitraan strategis.
Oracle berencana meluncurkan wilayah cloud publik di Indonesia pada kuartal ketiga 2025, yang akan menjadi pusat data dengan klaster GPU terbesar di kawasan tersebut. Langkah ini bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan AI, bukan hanya pengguna.
Chris Chelliah, Senior Vice President Oracle untuk Jepang dan Asia Pasifik, menyatakan, “Kami melihat Indonesia sebagai pusat pertumbuhan AI yang dinamis.” Kemitraan ini juga mencakup program pelatihan AI untuk lebih dari 100.000 warga dalam tiga tahun ke depan, menunjukkan komitmen jangka panjang perusahaan.
Apa Artinya Ini Bagi Investor Obligasi Oracle?
Bagi investor, situasi ini menghadirkan dilema yang kompleks. Di satu sisi, tumpukan utang yang masif, peringkat kredit yang lebih rendah, dan gugatan hukum menciptakan risiko yang nyata. Nilai obligasi yang ada telah tergerus, dan biaya untuk melindungi investasi tersebut telah meroket.
Di sisi lain, Oracle sedang memposisikan dirinya di garis depan salah satu revolusi teknologi terbesar dalam sejarah. Jika pertaruhan AI-nya berhasil dan kesepakatan dengan OpenAI membuahkan hasil, Oracle bisa menjadi pemain yang lebih dominan dari sebelumnya. Ini adalah skenario klasik high-risk, high-reward.
Obligasi Oracle Sebagai Barometer Risiko Industri AI
Kisah obligasi Oracle lebih dari sekadar drama keuangan satu perusahaan. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana euforia teknologi dapat berbenturan dengan realitas pasar modal. Penjualan utang senilai $18 miliar, yang diikuti oleh kebutuhan dana yang lebih besar dan gugatan hukum, telah mengubah surat utang Oracle menjadi indikator utama sentimen risiko di sektor AI.
Investor dan analis kini mengamati dengan cermat, menggunakan biaya CDS Oracle sebagai "indeks ketakutan" untuk mengukur seberapa besar kekhawatiran pasar terhadap potensi gelembung AI. Apakah ambisi Oracle akan terwujud menjadi keuntungan masif, ataukah tumpukan utangnya akan menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin akan menentukan arah industri teknologi untuk tahun-tahun mendatang.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset Anda sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum membuat keputusan investasi.
Artikel yang serupa
Popular Post
Sosial