Earnings Per Share: Definisi, Formula, dan Contoh

RETORIS.ID staff

Martini Ramadhani

01-06-2024

06-12-2025 updated

Earnings Per Share: Definisi, Formula, dan Contoh

Earnings Per Share (EPS)

Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana cara membedakan perusahaan yang benar-benar sehat secara finansial dari yang hanya terlihat bagus di permukaan? Di tengah lautan data laporan keuangan, ada satu metrik yang sering dianggap sebagai denyut jantung profitabilitas sebuah perusahaan: Earning Per Share (EPS).

Bagi investor, memahami EPS bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Angka ini memberikan gambaran jernih tentang berapa banyak keuntungan yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang Anda miliki. Ini adalah jembatan yang menghubungkan laba triliunan rupiah di laporan keuangan dengan nilai nyata di kantong Anda.

Artikel ini akan membedah tuntas konsep EPS, mulai dari definisi dasarnya, cara menghitungnya langsung dari laporan keuangan—dengan studi kasus pada perusahaan sekelas PT Bank Central Asia Tbk (BCA)—hingga cara menganalisisnya seperti seorang profesional. Mari kita mulai.

Apa Itu Earning Per Share (EPS)?

Secara sederhana, Earning Per Share (EPS) adalah ukuran laba bersih perusahaan yang dialokasikan untuk setiap lembar saham biasa yang beredar. Dalam Bahasa Indonesia, istilah ini dikenal sebagai Laba per Saham (LPS).

Bayangkan sebuah perusahaan adalah kue utuh (laba bersih), dan jumlah saham yang beredar adalah jumlah potongan kue yang ada. EPS memberitahu Anda seberapa besar ukuran satu potongan kue yang menjadi hak Anda sebagai pemegang saham.

Semakin tinggi nilai EPS, secara teori, semakin besar pula potensi keuntungan yang diterima oleh setiap pemegang saham. Inilah mengapa EPS menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan para analis dan investor untuk mengevaluasi kinerja serta valuasi sebuah perusahaan.

Mengapa EPS Begitu Penting bagi Investor?

Mengapa metrik ini begitu krusial? Bukankah melihat total laba bersih saja sudah cukup? Jawabannya adalah tidak. EPS memberikan konteks yang tidak bisa diberikan oleh angka laba bersih semata.

Berikut adalah beberapa fungsi vital EPS dalam analisis investasi:

1. Indikator Profitabilitas Perusahaan

EPS adalah cerminan langsung dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi para pemiliknya, yaitu pemegang saham. Kenaikan EPS dari tahun ke tahun sering kali mengindikasikan bahwa perusahaan berada dalam fase pertumbuhan yang sehat, dengan penjualan dan laba yang meningkat. Sebaliknya, EPS yang negatif menandakan perusahaan sedang merugi.

2. Dasar Perhitungan Valuasi Saham (P/E & PEG Ratio)

EPS adalah komponen fundamental dalam dua rasio valuasi paling populer:

  • Price-to-Earnings Ratio (P/E Ratio): Dihitung dengan membagi harga saham saat ini dengan EPS-nya. Rasio ini membantu investor memahami apakah harga saham tergolong murah atau mahal relatif terhadap labanya.
  • Price/Earnings to Growth (PEG Ratio): Versi lanjutan dari P/E yang juga mempertimbangkan tingkat pertumbuhan EPS tahunan, memberikan gambaran valuasi yang lebih akurat.

3. Memengaruhi Harga Saham dan Dividen

Perusahaan dengan EPS yang tinggi dan terus bertumbuh cenderung memiliki lebih banyak dana. Dana ini dapat diinvestasikan kembali untuk ekspansi bisnis atau dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Kedua skenario ini sangat menarik bagi investor dan pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga saham di pasar.

4. Alat Ukur Kinerja Historis

Meskipun kurang ideal untuk membandingkan dua perusahaan yang berbeda secara langsung, EPS adalah alat yang sangat baik untuk melacak kinerja sebuah perusahaan dari waktu ke waktu. Dengan melihat tren EPS selama beberapa tahun, Anda bisa mendapatkan gambaran utuh tentang konsistensi dan pertumbuhan profitabilitas perusahaan tersebut.

Cara Menghitung EPS: Studi Kasus Laporan Keuangan BCA

Teori saja tidak cukup, mari kita praktikkan. Menghitung EPS sebenarnya cukup sederhana jika Anda tahu data apa yang harus dicari dalam laporan keuangan.

Rumus Dasar EPS

Rumus paling umum yang digunakan adalah:

EPS = Laba Bersih / Jumlah Rata-Rata Saham Beredar 

Rumus EPS dengan Saham Preferen

Jika perusahaan menerbitkan saham preferen, rumusnya sedikit disesuaikan. Ini karena dividen untuk pemegang saham preferen harus dibayarkan terlebih dahulu sebelum laba dialokasikan untuk pemegang saham biasa.

EPS = (Laba Bersih – Dividen Saham Preferen) / Jumlah Rata-Rata Saham Biasa Beredar 

Langkah-langkah Praktis Menghitung EPS

Mari kita lakukan studi kasus nyata menggunakan laporan keuangan terbaru PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) per 31 Oktober 2025, salah satu emiten favorit di bursa.

Disclaimer Penting: Data yang digunakan adalah Laporan Keuangan Individual (bukan konsolidasian) BCA periode 10 bulan (Januari-Oktober 2025) yang belum diaudit. Untuk analisis investasi yang komprehensif, investor sebaiknya menggunakan laporan konsolidasian yang mencerminkan kinerja seluruh grup perusahaan.

Langkah 1: Temukan Laba Bersih (Net Income)

Buka Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain. Cari baris yang bertuliskan "Laba (Rugi) Bersih Periode Berjalan".

  • Angka Aktual: Rp 48.256.793 juta atau Rp 48,26 triliun (periode 10 bulan)

Langkah 2: Identifikasi Dividen Saham Preferen (jika ada)

Periksa bagian Ekuitas di Laporan Posisi Keuangan (Neraca). Lihat apakah ada baris yang menyebutkan saham preferen atau dividen saham preferen. Dalam kasus BCA, tidak terdapat saham preferen yang beredar.

  • Angka Aktual: Rp 0 (BCA tidak menerbitkan saham preferen)

Langkah 3: Cari Jumlah Saham Beredar

Data jumlah saham dapat dihitung dari bagian Ekuitas di Laporan Posisi Keuangan. Perhatikan angka "Modal disetor" dan nilai nominal saham.

(Lihat screenshot bagian Modal Disetor - Neraca BCA)

Dari laporan terlihat:

  • Modal dasar: Rp 5.500.000 juta
  • Modal yang belum disetor: (Rp 3.959.062 juta)
  • Saham treasury: (Rp 378 juta)
  • Modal disetor bersih: Rp 1.540.560 juta

Dengan nilai nominal Rp 125 per saham (sesuai anggaran dasar BCA), perhitungannya:

Jumlah Saham = Modal Disetor ÷ Nilai Nominal per Saham

(Rp 1.540.560.000.000 ÷ Rp 125) = 12.324.480.000 lembar

  • Angka Aktual: 12,32 miliar lembar saham beredar

Langkah 4: Masukkan Angka ke Rumus

Sekarang, kita masukkan angka-angka tersebut ke dalam rumus:

EPS = (Laba Bersih – Dividen Saham Preferen) ÷ Jumlah Saham Beredar

EPS = (Rp 48.256.793.000.000 – Rp 0) ÷ 12.324.480.000 lembar

EPS = Rp 3.915,48 per lembar saham (periode 10 bulan)

Karena ini adalah data 10 bulan, kita bisa memproyeksikan EPS tahunan dengan annualisasi sederhana:

EPS (annualized) = Rp 3.915,48 × (12 ÷ 10) = Rp 4.698,58 per lembar saham

Penting untuk dipahami: Annualisasi ini adalah proyeksi matematis sederhana yang mengasumsikan kinerja 2 bulan terakhir tahun akan sama dengan rata-rata 10 bulan sebelumnya. Dalam praktik, kinerja bank dapat bervariasi per kuartal karena faktor musiman, kondisi ekonomi makro, atau peristiwa khusus di akhir tahun.

Untuk setiap lembar saham BBCA yang dimiliki, perusahaan menghasilkan laba sebesar Rp 3.915,48 dalam periode 10 bulan (Januari-Oktober 2025), atau diproyeksikan sekitar Rp 4.698,58 jika diannualisasi untuk proyeksi 12 bulan penuh.

Berapa Nilai EPS yang Bagus? Sebuah Perspektif

Ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan investor. Sayangnya, tidak ada angka pasti untuk menentukan EPS yang bagus. Perusahaan teknologi dengan EPS 500 bisa jadi lebih menarik daripada perusahaan manufaktur dengan EPS 1.000, tergantung pada valuasi dan potensi pertumbuhannya.

Kuncinya bukan pada angka absolut, melainkan pada tren dan konsistensi.

  • EPS Positif dan Bertumbuh: Ini adalah skenario ideal. Ini menunjukkan perusahaan tidak hanya profitabel, tetapi juga mampu meningkatkan profitabilitasnya secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.
  • EPS Menurun: Ini adalah sinyal waspada. Artinya, kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba per saham sedang melemah.
  • EPS Negatif: Ini adalah tanda bahaya. Artinya, perusahaan sedang mengalami kerugian, bukan keuntungan.

Jadi, nilai EPS yang bagus adalah EPS yang positif dan terus meningkat secara konsisten dari periode ke periode.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Naik Turunnya Nilai EPS

Nilai EPS tidak statis; ia dapat berfluktuasi karena dua komponen utamanya: laba bersih dan jumlah saham beredar.

Faktor Pendorong Kenaikan EPS

  1. Laba Bersih Meningkat: Penyebab paling sehat. Perusahaan berhasil meningkatkan penjualan atau menekan biaya, sehingga laba bersih naik sementara jumlah saham tetap.
  2. Jumlah Saham Beredar Turun: Perusahaan melakukan aksi korporasi buyback (pembelian kembali saham). Dengan laba bersih yang sama, jumlah pembagi yang lebih kecil akan menghasilkan EPS yang lebih tinggi.
  3. Kombinasi Keduanya: Skenario terbaik di mana laba bersih naik dan perusahaan juga melakukan buyback saham.

Faktor Penyebab Penurunan EPS

  1. Laba Bersih Menurun: Kinerja perusahaan memburuk, menyebabkan laba turun sementara jumlah saham tetap.
  2. Jumlah Saham Beredar Meningkat: Perusahaan menerbitkan saham baru (misalnya melalui rights issue) untuk mendapatkan modal. Jika laba tidak tumbuh secepat penambahan jumlah saham, EPS akan terdilusi atau menurun.
  3. Kombinasi Keduanya: Skenario terburuk di mana laba perusahaan turun bersamaan dengan penerbitan saham baru.

Analisis EPS Lebih Dalam: Apa yang Harus Diperhatikan Investor Cerdas?

Memahami EPS adalah langkah awal. Menganalisisnya dengan kritis adalah langkah selanjutnya.

1. Jangan Hanya Melihat Angka Absolut

Membandingkan EPS perusahaan besar seperti BCA dengan bank digital yang lebih kecil mungkin tidak akan memberikan perbandingan yang adil. Selalu bandingkan EPS sebuah perusahaan dengan:

  • Kinerja historisnya sendiri: Apakah ada tren pertumbuhan yang jelas?
  • Pesaing di industri yang sama: Bagaimana posisinya dibandingkan dengan kompetitor sekelasnya?

2. Waspadai Aksi Korporasi

Aksi korporasi seperti stock split atau reverse split dapat mengubah jumlah saham beredar secara drastis dan memanipulasi angka EPS secara teknis. Pastikan Anda memahami konteks di balik perubahan signifikan pada nilai EPS.

3. Peran Standar Akuntansi (PSAK 56)

Di Indonesia, penyajian dan perhitungan Laba per Saham (LPS) atau EPS diatur secara spesifik dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 56. Standar ini memastikan bahwa perusahaan-perusahaan go public menghitung dan melaporkan EPS mereka dengan cara yang konsisten dan transparan. Ini memberikan lapisan kepercayaan bagi investor bahwa angka yang disajikan dapat diperbandingkan dan diandalkan.

Jadikan EPS sebagai Kompas Investasi Anda

Earning Per Share (EPS) adalah lebih dari sekadar rasio keuangan; ia adalah representasi dari seberapa besar nilai yang diciptakan perusahaan untuk setiap lembar saham yang Anda genggam. Ia adalah bukti nyata dari profitabilitas yang relevan bagi investor.

Dengan memahami cara menghitung, fungsi, serta faktor yang memengaruhinya, Anda akan lebih siap dalam membuat keputusan investasi yang rasional dan berbasis data.

Namun, ingatlah bahwa EPS hanyalah satu bagian dari teka-teki besar. Investor cerdas selalu menggabungkan analisis EPS dengan metrik fundamental lainnya seperti Return on Equity (ROE), Debt-to-Equity Ratio (DER), dan arus kas untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang kesehatan perusahaan. Gunakan EPS sebagai kompas, bukan satu-satunya peta, dalam perjalanan investasi Anda.

Artikel yang serupa